Badan Geologi Kementerian ESDM mengonfirmasi bahwa aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih berlangsung aktif pada rentang waktu Selasa (8/9) hingga Rabu (9/9). Berdasarkan hasil pemantauan seismik terkini, pos pengamatan mencatat kemunculan puluhan gempa frekuensi rendah di tengah status gunung api yang masih bertahan di tingkat kewaspadaan tinggi.
Dalam kurun waktu pengamatan tersebut, terekam 6 kali gempa erupsi, 50 kali gempa Low Frequency, 77 kali gempa Hybrid atau Fase banyak, 1 kali gempa hembusan, serta gempa tremor menerus. Peralatan monitoring juga menangkap 1 kali gempa vulkanik dangkal dan 1 kali gempa vulkanik dalam.
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

Secara instrumental, energi aktivitas vulkanik yang dicerminkan dari nilai perataan amplitudo Realtime Seismic Amplitude Measurement (RSAM) menunjukkan fluktuasi pada level energi rendah. Sementara itu, data deformasi tiltmeter di Stasiun Tanjung dan Lava93 memperlihatkan pola mendatar yang menandakan kondisi relatif konstan tanpa adanya lonjakan maupun penurunan tekanan yang drastis.
Sebelumnya, erupsi menerus di Gunung Anak Krakatau terjadi mulai 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB setelah berlangsung selama 25 jam. Sejak fase erupsi menerus itu terhenti hingga 9 September 2026 pukul 06.00 WIB, terekam sebanyak 12 kali erupsi Strombolian.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Badan Geologi menyatakan probabilitas terjadinya letusan lanjutan dalam beberapa waktu ke depan masih tergolong tinggi. Tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini tetap berada pada Level III (Siaga). Masyarakat, nelayan, pendaki, maupun wisatawan diimbau untuk tidak memasuki dan tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius bahaya 3 kilometer dari pusat erupsi.






