Aktivitas vulkanis Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, masih bertahan pada status Siaga (Level III). Di tengah potensi bahaya yang belum mereda, sejumlah warga dilaporkan masih nekat kembali ke kawasan zona merah pada siang hari demi memeriksa kondisi hunian dan hewan ternak yang ditinggalkan.
Peningkatan aktivitas gunung api ini bermula dari letusan yang terjadi pada Senin, 31 Agustus 2026 pukul 10.17 WIB. Pada peristiwa tersebut, Gunung Sinabung meluncurkan kolom abu vulkanis setinggi 3.500 meter di atas puncak. Erupsi ini tercatat sebagai letusan pertama sejak aktivitas erupsi terakhirnya pada 2022.
Erupsi tersebut memaksa ratusan warga di sekitar lereng mengungsi ke tempat aman. Berdasarkan pendataan terkini, sebanyak 201 kepala keluarga atau sekitar 650 jiwa warga Desa Kuta Tengah telah dievakuasi ke titik pengungsian di wilayah Desa Suka Tepu serta fasilitas Koperasi Desa Kelurahan/PUD.
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

Penjagaan Kawasan dan Mobilitas Warga
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara, Tuahta Ramajaya Saragih, mengonfirmasi adanya laporan warga yang kembali memasuki area rawan bencana pada siang hari. Keinginan memastikan kondisi aset pribadi dan memberi makan ternak menjadi alasan utama sebagian warga melanggar batas zona merah.
Menanggapi situasi tersebut, personel TNI dan Polri dikerahkan untuk menjaga desa-desa yang telah dikosongkan pengungsi. Pengamanan terpadu ini bertujuan melindungi harta benda warga yang ditinggalkan sekaligus menghalau masyarakat agar tidak menerobos kembali ke wilayah terdampak selama status Siaga berlangsung.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Penanganan Logistik dan Pengungsian
Untuk memenuhi kebutuhan dasar pengungsi, BPBD Sumatera Utara telah mendistribusikan 630 masker pada tahap awal tanggap darurat guna mengantisipasi paparan abu vulkanis. Selain itu, lima tenda penampungan telah didirikan dari total tujuh unit tenda darurat yang dipersiapkan.
Fasilitas penunjang di lokasi pengungsian juga diperkuat melalui pengerahan dua unit truk evakuasi, satu unit mobil tangki air bersih, dan satu armada toilet bergerak untuk memastikan sanitasi para pengungsi tetap terjaga selama berada di penampungan sementara.






