Sebaran titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah kembali menunjukkan kenaikan pada Minggu (30/8). Bertambahnya titik panas tersebut berdampak langsung pada jarak pandang yang kini terbatas di kisaran 1 hingga 1,5 kilometer.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat pergerakan titik panas dan titik api di beberapa provinsi rawan. Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyampaikan bahwa hotspot di Kalbar bertambah sebanyak 453 titik sehingga totalnya mencapai 3.824 titik. Kendati demikian, jumlah titik api di wilayah tersebut terpantau turun menjadi 16 titik.
Lonjakan titik panas lebih tinggi terjadi di Kalimantan Tengah, dengan penambahan 876 titik hingga menyentuh angka 5.391 titik. Di sisi lain, titik api di Kalteng mengalami penurunan sebanyak 23 titik menjadi 56 titik.
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

Kondisi berbeda terlihat di Kalimantan Selatan, di mana jumlah hotspot berkurang sebanyak 279 titik menjadi 1.077 titik, dan titik api turun menjadi 52 titik. Meski titik panas di Kalsel berkurang, jarak pandang di Kalbar, Kalteng, maupun Kalsel saat ini sama-sama berada dalam kondisi relatif rendah, yaitu antara 1 sampai 1,5 kilometer.
Selain di Pulau Kalimantan, pemantauan BNPB di Pulau Sumatera mencatat dinamika sebaran titik panas di Riau, Sumatera Selatan, dan Jambi. Di Provinsi Riau, hotspot berkurang menjadi 264 titik dengan titik api bertambah menjadi 12 titik serta jarak pandang sekitar 5 km. Sumatera Selatan mencatat penurunan titik panas menjadi 804 titik, namun titik apinya naik menjadi 18 titik dengan jarak pandang 2,4 km. Sementara itu di Jambi, titik panas naik menjadi 135 titik dengan titik api stabil di angka empat dan jarak pandang sekitar 3,5 km.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Untuk menangani karhutla di enam provinsi tersebut, operasi darat dan udara dikerahkan secara intensif. BNPB menyiagakan sebanyak 48.667 personel darat guna menjalankan rangkaian pemantauan, pemadaman, pendinginan, hingga pembasahan lahan. Sementara itu, operasi udara didukung oleh 53 armada yang mencakup 19 unit untuk patroli serta operasi modifikasi cuaca, dan 34 armada untuk pemadaman udara (water bombing).






