Harga minyak mentah dunia melonjak menembus level US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli, dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah menyusul serangan intensif milisi Houthi terhadap infrastruktur energi Arab Saudi. Di Amerika Serikat, lonjakan harga energi ini mendorong harga eceran bahan bakar solar mencetak rekor baru di atas US$6,2 per galon.
Krisis pasokan global kian mengkhawatirkan setelah serangan pesawat nirawak melumpuhkan jalur pipa minyak strategis sepanjang 1.200 kilometer yang membentang dari timur ke barat Semenanjung Arab. Jalur pipa krusial ini selama bertahun-tahun menjadi rute utama bagi pengiriman minyak mentah kawasan Teluk ke pasar internasional tanpa harus melintasi Selat Hormuz.
Cadangan Yanbu Menipis dan Ancaman 4% Pasokan Global
Menyusul terhentinya aliran pipa timur-barat tersebut, Arab Saudi kini bergantung pada stok cadangan di pelabuhan Yanbu yang berada di pesisir Laut Merah. Menurut data pedagang dan pembeli minyak, persediaan di Yanbu diperkirakan hanya sanggup menopang ekspor minyak Saudi selama lima hingga tujuh hari jika perbaikan belum rampung. Setelah stok tersebut habis, sebanyak 4% pasokan minyak dunia berpotensi mengalami gangguan langsung.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Eskalasi di perairan turut memperparah ketidakpastian jalur distribusi energi. Di hari penyerangan pipa, milisi Houthi berhasil merebut Pulau Perim yang berlokasi di tengah Selat Bab el-Mandeb.
Di titik perlintasan lainnya, Badan Keamanan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan sebuah kapal terbakar dan seluruh awaknya harus dievakuasi setelah terkena proyektil di Selat Hormuz. Otoritas Iran juga melaporkan insiden serangan terhadap kapal komersial mereka di lepas pantai kawasan, yang menewaskan satu orang serta melukai empat awak kapal.
Diplomasi Mandek dan Respons Internasional
Upaya peredaman konflik melalui meja perundingan menghadapi kebuntuan. Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Albusaidi mengumumkan bahwa agenda pertemuan regional antara Iran dan negara-negara Arab Teluk terpaksa ditunda demi kepentingan konsensus. Sementara itu, Bahrain menyatakan menolak hadir dalam pertemuan dengan pejabat Iran.
Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Dalam wawancara bersama media Al-Arabi Al-Jadeed, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sampai Amerika Serikat memenuhi tuntutan pihak Teheran.
Dari sisi pertahanan, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman telah menghubungi Presiden AS Donald Trump untuk meminta bantuan militer langsung guna menghadapi ancaman Houthi. Namun, pemerintah Amerika Serikat untuk saat ini membatasi keterlibatannya pada pemberian dukungan intelijen. Trump menyatakan bahwa milisi Houthi telah menghubungi Washington agar tidak ikut campur dalam perang Yaman, setelah sebelumnya AS sempat melancarkan serangan udara selama dua bulan terhadap kelompok tersebut pada 2025.






