Selat Hormuz yang selama ini menjadi kartu truf geopolitik Teheran kini terancam kehilangan nilai strategisnya. Langkah agresif negara-negara tetangga di kawasan Teluk yang membangun jaringan pipa serta rute ekspor energi alternatif mulai mengikis ketergantungan regional terhadap jalur pelayaran sempit tersebut, di saat perekonomian internal Iran kian terhimpit.
Pendiri Forum Aktivis Ekonomi Hamid Paktinat memperkirakan pembangunan infrastruktur energi alternatif oleh negara-negara Teluk berpotensi memangkas nilai strategis Selat Hormuz hingga separuhnya dalam tiga tahun ke depan. Ketergantungan Arab Saudi terhadap selat tersebut diproyeksikan merosot dari 70 persen menjadi hanya 15 persen. Penurunan serupa diperkirakan terjadi pada Uni Emirat Arab dari 50 persen ke 15 persen, serta Irak dari 100 persen menjadi 30 persen. Dalam kurun enam tahun, jalur ini dinilai berisiko hampir kehilangan arti pentingnya sama sekali.
Tanda-tanda pergeseran lalu lintas energi maritim tersebut juga tecermin dari data pelacakan kapal Kpler. Pada periode 1 hingga 19 Agustus, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz tercatat merosot tajam dengan hanya 112 kapal tanker minyak dan gas yang melintas, sementara mayoritas armada lainnya mulai memanfaatkan rute yang belum terkonfirmasi.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Tekanan Ekonomi Domestik dan Sikap Pejabat Teheran
Kondisi eksternal tersebut memperberat situasi di dalam negeri Iran. Sejumlah elite pengambil kebijakan di Teheran mulai menyuarakan kekhawatiran terkait daya tahan nasional jika krisis ekonomi dibiarkan berlarut-larut. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf secara terbuka menegaskan bahwa keunggulan militer semata tidak akan memadai untuk menjaga keutuhan negara apabila sektor perekonomian terus memburuk.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian turut mendorong agar Teheran segera menyudahi eskalasi konflik selagi masih memiliki posisi tawar yang kokoh, ketimbang menunggu sampai kekuatan negosiasi dan stabilitas finansial negara semakin lumpuh. Tekanan tersebut kian nyata mengingat Iran saat ini menghadapi krisis berlapis.
Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati memaparkan bahwa negaranya tengah berhadapan dengan empat hingga lima tantangan ekonomi besar secara serentak. Beban tersebut mencakup pengetatan sanksi maksimum, blokade perdagangan, penghentian ekspor minyak, hingga ketimpangan anggaran belanja negara yang parah.
Di sisi lain, efektivitas Selat Hormuz sebagai instrumen gertakan geopolitik dinilai makin tumpul. Pakar geo-ekonomi Iran Hamid Asefi menyoroti bahwa ketergantungan Teheran yang terlalu sering memanfaatkan ancaman penutupan selat sebagai alat penekan justru membuat daya tawar tersebut memudar di mata komunitas internasional.






