Pernyataan Ulta Levenia Nababan kembali memicu perhatian publik setelah mengaitkan aktivitas vulkanik sejumlah gunung api di Indonesia dengan proyek riset asal Amerika Serikat, High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP). Mantan staf Kantor Staf Presiden (KSP) yang kini menjabat sebagai deputi di Badan Komunikasi (Bakom) RI tersebut melontarkan pandangan konspiratif mengenai hubungan antara fenomena alam dan dinamika geopolitik internasional.
Dalam sebuah siniar yang tayang pada 27 Agustus, Ulta mengutarakan keyakinannya sekitar 73,5 persen bahwa serangkaian peristiwa alam dan politik telah diorkestrasi oleh pihak tertentu. Pembahasan tersebut kemudian ia hubungkan dengan momentum pertemuan diplomatik antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin yang berlangsung di Vladivostok pada 3 September. Melalui pernyataan tambahannya, Ulta juga mengklaim sejumlah negara seperti Jepang, China, dan Turkiye pernah menaruh kecurigaan serupa terkait operasional program HAARP.
Penjelasan Operasional HAARP dan Tanggapan Pemerintah
Secara saintifik, HAARP merupakan program penelitian lapisan ionosfer鈥攂agian atmosfer bumi yang terionisasi akibat radiasi matahari鈥攜ang ditujukan untuk mendukung kemajuan teknologi dan komunikasi. Pada awal pendiriannya, proyek ini memang didanai oleh Angkatan Udara AS (US Air Force), Angkatan Laut AS (US Navy), serta Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA). Namun, sejak Agustus 2015, seluruh kepemilikan dan hak operasional fasilitas riset tersebut telah dipindahtangankan sepenuhnya kepada University of Alaska Fairbanks (UAF).
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

Menanggapi polemik yang berkembang, Kepala KSP Dudung Abdurachman mengklarifikasi status kelembagaan Ulta saat memberikan keterangan di Gedung Bina Graha pada Kamis (10/9). Dudung menyatakan bahwa Ulta sudah tidak lagi bertugas di KSP sebagai tenaga ahli utama dan saat ini berkarier sebagai deputi di Bakom. Dudung juga menegaskan bahwa rentetan fenomena alam yang melanda tanah air tidak memiliki keterkaitan dengan kepentingan pihak asing maupun manipulasi eksternal.
Bantahan Ilmiah Pakar Vulkanologi
Dari sudut pandang keilmuan, narasi rekayasa cuaca atau teknologi pemicu erupsi dibantah oleh pakar vulkanologi Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Agung Harijoko. Ia menekankan bahwa fenomena erupsi gunung api di Indonesia murni merupakan proses dinamika geologi bumi yang berlangsung secara alami, bukan akibat manipulasi teknologi.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Tercatat ada enam gunung api yang mengalami peningkatan aktivitas atau erupsi dalam rentang waktu yang berdekatan, yakni Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Ili Lewotolok dan Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur, Gunung Ibu di Maluku Utara, serta Gunung Sinabung di Sumatera Utara. Agung memastikan seluruh aktivitas vulkanik tersebut bergerak berdasarkan siklus magma dan karakteristik lempeng tektonik masing-masing wilayah.






