Kementerian Pendidikan, Sains, dan Teknologi mengimbau perguruan tinggi yang berada di wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau untuk segera memberlakukan pembelajaran jarak jauh atau kuliah daring. Langkah ini ditujukan untuk meminimalkan dampak kesehatan akibat paparan abu vulkanik bagi seluruh sivitas akademika.
Wakil Menteri Pendidikan, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan menyatakan bahwa penyesuaian tidak terbatas pada agenda perkuliahan. Pihak kampus juga diminta membatasi kegiatan di ruang terbuka, termasuk memindahkan operasional administrasi dan layanan akademik ke sistem daring atau kombinasi hybrid sesuai kondisi lapangan.
Selain memindahkan aktivitas pembelajaran ke sistem daring, perguruan tinggi di daerah terdampak diarahkan mendirikan posko siaga bencana di lingkungan kampus masing-masing. Pimpinan kampus juga diminta memobilisasi bantuan darurat bagi sivitas akademika dan masyarakat sekitar, serta mengerahkan tenaga pakar akademisi untuk membantu proses mitigasi dampak erupsi di tingkat daerah.
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

Kemendiktisaintek memastikan koordinasi lintas sektor bersama pemerintah daerah akan terus berjalan secara berkala agar setiap langkah respons dan penanganan di lingkungan pendidikan tinggi dapat terukur dengan baik.
Erupsi Gunung Anak Krakatau terpantau berlangsung dengan intensitas cukup besar sejak Jumat (4/9) malam hingga Minggu (6/9). Sebaran abu vulkanik dari aktivitas vulkanik ini terpantau meluas hingga mencakup wilayah Lampung, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), VAAC Darwin, serta pantauan citra satelit Himawari-9 oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), abu vulkanik bergerak ke dua arah utama. Jalur sebaran pertama mengarah ke timur laut hingga selatan yang melintasi sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan wilayah perairan di sekitarnya. Sementara itu, jalur sebaran kedua bergerak ke arah barat daya hingga barat laut yang menjangkau area Banten, Lampung, Bengkulu, perairan Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia.






