Ketergantungan Indonesia terhadap impor produk hilir mineral bernilai tinggi masih menjadi tantangan besar bagi kemandirian industri nasional. Guna mengatasi kesenjangan tersebut, kolaborasi melalui kemitraan strategis dengan pihak global dinilai menjadi langkah yang sangat krusial. Dalam acara MINDialogue yang digelar di Jakarta dan dilaporkan pada Jumat, 21 Agustus 2026, ditegaskan bahwa kemitraan strategis merupakan jalan utama bagi Indonesia untuk menguasai teknologi mineral demi mempercepat transfer teknologi serta membangun ekosistem industri dalam negeri yang lebih mandiri.
Salah satu tantangan nyata dalam industri mineral ini dipaparkan oleh Chief Technology Officer (CTO) Danantara Indonesia, Sigit Puji Santosa. Beliau menjelaskan bahwa selama ini Indonesia masih banyak mengekspor bahan baku mentah atau setengah jadi, seperti alumina dan aluminium, sementara produk-produk turunannya justru diproduksi di luar negeri. Secara spesifik, Indonesia mengolah bijih bauksit menjadi alumina atau aluminium ingot untuk kemudian diekspor ke berbagai negara lain, termasuk Jepang. Akibat dari pola ekspor bahan baku ini, Indonesia harus menunggu pasokan produk ekstrusi aluminium dari luar negeri selama lima hingga enam bulan. Padahal, produk ekstrusi aluminium tersebut sangat dibutuhkan untuk mendukung sektor-sektor strategis nasional seperti industri dirgantara, otomotif, hingga pertahanan.
Prabowo Perintahkan Siapkan 2 Juta Hektare Lahan Tebu untuk Program BBM E20

Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan kemampuan riset di dalam negeri. Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Todotua Pasaribu, secara terus terang menyatakan bahwa Indonesia masih sangat lemah dalam hal research and development (R&D) atau penelitian dan pengembangan. Keterbatasan dalam bidang riset dan pengembangan inilah yang membuat kemitraan teknologi dengan pihak luar menjadi sangat penting, agar Indonesia dapat mengadopsi teknologi modern secara lebih cepat dan efisien.
Meskipun demikian, Indonesia memiliki modal kuat di sektor lain, seperti kepemilikan sumber daya nikel yang melimpah dan fasilitas pengolahan high pressure acid leaching (HPAL) yang sudah beroperasi. Untuk mengoptimalkan potensi ini, langkah nyata telah diambil melalui kolaborasi antara Indonesia Battery Corporation (IBC), yang merupakan anak usaha dari MIND ID, dengan Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL). Kerja sama strategis ini difokuskan untuk mengadopsi teknologi manufaktur sel baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) yang canggih agar dapat diproduksi di dalam negeri.
Jorindo Agung Siapkan Langkah Ekspansi ke Sektor Energi Hijau

Sebagai wujud nyata dari kolaborasi tersebut, saat ini tengah dibangun sebuah pabrik baterai kendaraan listrik (EV) yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat. Pabrik ini ditargetkan memiliki kapasitas produksi awal yang diestimasi mencapai 6,9 gigawatt hours (GWh) per tahun. Proyek pembangunan pabrik baterai skala besar ini dieksekusi oleh sebuah konsorsium yang terdiri atas Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co Ltd (CBL), PT Aneka Tambang Tbk (Antam), dan IBC. Sebagai informasi, CBL sendiri merupakan anak usaha dari raksasa teknologi baterai asal Tiongkok, CATL. Melalui proyek konsorsium ini, Indonesia diharapkan dapat mempercepat penguasaan teknologi mineral dan hilirisasi secara berkelanjutan.






