tartilybanjary.id
BerandaEkonomi & BisnisInvestasiEkonomi DigitalEkonomi Digital & PendapatanEkonomi & KeuanganBisnis DigitalKeuangan DigitalInvestasi & SahamDigital Economy & EarningFinansialInvestasi DigitalKeuanganLogistik & InfrastrukturDigital EconomyKeuangan PublikRegulasi PropertiEkonomi HijauKomunikasi BisnisHukum & BisnisKebijakan Publik
Beranda/Ekonomi

Mengapa Pengembang Kesulitan Membangun Rumah Subsidi di Lahan yang Telah Dibeli?

Andi SompaDiterbitkan 1 Agu 2026 - 21.40 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Mengapa Pengembang Kesulitan Membangun Rumah Subsidi di Lahan yang Telah Dibeli?
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

Sektor properti di Indonesia, khususnya pada segmen pembangunan perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah, saat ini sedang menghadapi tantangan yang cukup berat. Permasalahan utama yang menjadi sorotan para pelaku usaha adalah penerapan regulasi mengenai Lahan Sawah Dilindungi atau yang sering disingkat dengan istilah LSD. Kebijakan mengenai pelindungan area persawahan ini ternyata menimbulkan hambatan besar bagi proyek pembangunan rumah subsidi di berbagai daerah. Kondisi tersebut dinilai telah mengganggu ketersediaan serta pasokan lahan yang sebenarnya sudah dipersiapkan oleh para pengembang. Gangguan pasokan tanah ini dirasakan sangat signifikan, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki tingkat kebutuhan hunian yang sangat tinggi.

tartilybanjary.id

Copyright 2026 tartilybanjary.id - All Rights Reserved.

Kategori

Ekonomi & BisnisInvestasiEkonomi DigitalEkonomi Digital & PendapatanEkonomi & KeuanganBisnis DigitalKeuangan DigitalInvestasi & SahamDigital Economy & EarningFinansialInvestasi DigitalKeuanganLogistik & InfrastrukturDigital EconomyKeuangan PublikRegulasi PropertiEkonomi HijauKomunikasi BisnisHukum & BisnisKebijakan PublikEkonomiEkonomi Digital & Bisnis
Ekonomi
Ekonomi Digital & Bisnis
Ekonomi Lokal
Regulasi & Tata Kelola
Hukum & Regulasi
Ekonomi & Pembangunan
Ekonomi & Regulasi
Keamanan Data
Berita Lokal
Ekonomi Makro
Otomotif
Investasi & Keuangan
Nasional
Kebijakan Ekonomi
Infrastruktur
Layanan Publik
Transportasi & Bisnis
Ekonomi & Kebijakan Publik
Kesehatan Konsumen
Ekonomi Global
Populer

Pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa pengembang tidak bisa membangun rumah di lahan yang sudah mereka beli secara sah. Akar permasalahannya terletak pada perubahan status zonasi lahan yang terjadi secara mendadak. Sebelumnya, banyak pengembang telah membeli tanah yang secara resmi masuk ke dalam zona kuning. Berdasarkan tata ruang daerah yang berlaku pada saat pembelian, zona kuning tersebut merupakan area yang diizinkan untuk dikembangkan sebagai kawasan perumahan. Para pengembang membeli tanah tersebut tanpa ada niat untuk mengubah alih fungsi lahan secara ilegal, melainkan murni karena area itu memang diperuntukkan bagi permukiman. Namun, seiring dengan berlakunya aturan Lahan Sawah Dilindungi, status lahan yang telah dibeli tersebut tiba-tiba berubah dan tidak lagi dapat dimanfaatkan untuk mendirikan bangunan.

Baca Juga

Menggunakan Layanan Transbandara Rute Blok M-Bandara Soekarno-Hatta dengan Tarif Rp15.000

Menggunakan Layanan Transbandara Rute Blok M-Bandara Soekarno-Hatta dengan Tarif Rp15.000

Perubahan regulasi yang tiba-tiba ini memberikan tekanan yang sangat besar terhadap kondisi keuangan dan kelangsungan bisnis para pengembang perumahan. Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia, atau yang dikenal dengan singkatan APERSI, yaitu Deddy Indrasetiawan, menjelaskan bahwa situasi ini membuat para pelaku usaha berada dalam posisi yang sangat sulit. Beberapa pengembang kini mengalami kesulitan modal yang cukup parah. Kesulitan finansial ini terjadi karena mereka tidak bisa membangun rumah, dan secara otomatis tidak bisa menjual unit hunian di atas lahan yang sudah telanjur mereka beli dengan modal besar. Akibat terbentur aturan LSD pada lahan baru tersebut, langkah yang bisa diambil oleh para pengembang saat ini hanyalah menghabiskan sisa lahan lama yang masih tersedia dan belum terdampak aturan.

Terkait dengan sebaran dampaknya, sering dipertanyakan wilayah mana saja yang menghadapi tantangan terberat akibat kebijakan tata ruang ini. Tantangan terbesar dari perubahan kebijakan tersebut tidak terjadi secara merata, melainkan terpusat di beberapa provinsi utama. Wilayah Jawa Barat dan Banten diperkirakan menjadi daerah yang menghadapi kendala paling berat. Kedua provinsi ini dikenal sebagai pusat utama pembangunan rumah subsidi di Indonesia, sehingga setiap ada perubahan kebijakan tata ruang, aktivitas para pengembang di sana akan langsung terdampak. Berdasarkan keterangan dari Direktur Jenderal Tata Ruang Kementerian ATR/BPN, yaitu Suyus, Provinsi Banten merupakan wilayah yang menanggung beban paling berat. Secara lebih spesifik, Kabupaten Tangerang di Banten disorot sebagai daerah yang menghadapi tantangan paling sulit akibat persoalan penetapan Lahan Sawah Dilindungi ini.

Baca Juga

Strategi Bisnis PTPN I dalam Hilirisasi Tetes Tebu Menjadi Bioetanol dan Target Ekspor ASEAN

Strategi Bisnis PTPN I dalam Hilirisasi Tetes Tebu Menjadi Bioetanol dan Target Ekspor ASEAN

Ketidakpastian mengenai status lahan pada akhirnya memunculkan pertanyaan tentang seberapa besar dampaknya terhadap pencapaian target rumah subsidi secara nasional. Pencapaian target pembangunan rumah subsidi pada semester pertama tahun ini tercatat mengalami penurunan yang cukup tajam, yakni sebesar 24 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Deddy Indrasetiawan menegaskan bahwa penurunan angka pencapaian target tersebut sangat berkaitan erat dengan masalah ketersediaan lahan yang terhambat oleh aturan baru ini. Selain masalah lahan yang tertahan oleh kebijakan Lahan Sawah Dilindungi, penurunan kinerja di sektor perumahan subsidi ini juga diperparah oleh proses perizinan yang masih menjadi kendala di lapangan, serta adanya tren kenaikan harga material bangunan yang semakin membebani biaya operasional para pengembang.

Ikuti tartilybanjary.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

Rumah SubsidiPropertiLahan Sawah DilindungiTata RuangKementerian ATR/BPNAPERSI

Berita Terbaru Lainnya

Panduan Memahami Dinamika Regulasi dan Peluang Bisnis Digital di IndonesiaMenggunakan Layanan Transbandara Rute Blok M-Bandara Soekarno-Hatta dengan Tarif Rp15.000Strategi Bisnis PTPN I dalam Hilirisasi Tetes Tebu Menjadi Bioetanol dan Target Ekspor ASEANRibuan Pesilat PSHT di Surabaya Bubarkan Diri Usai Tuntut Proses Hukum Oknum Debt CollectorJejak Digital dan Kasus Hukum, Pelajaran dari Penghapusan Pesan Otomatis di PemalangPanduan Manajemen Risiko, Penyelidikan Kebakaran Aset Bisnis dan Peran Tim ForensikPotensi Ekonomi Ekosistem Kendaraan Listrik Nasional dan Peran Industri DomestikPanduan Mengoptimalkan Anggaran Perjalanan Melalui Program Diskon Transportasi

Paling Banyak Dibaca

Transformasi dan Konsolidasi Asuransi BUMN di Bawah Naungan IFG

Ekonomi Digital

Transformasi dan Konsolidasi Asuransi BUMN di Bawah Naungan IFG

31 Jul 2026

Realisasi Pendapatan Asli Daerah Sumatera Utara Tembus 50 Persen pada Juli 2026

Ekonomi & Keuangan

Realisasi Pendapatan Asli Daerah Sumatera Utara Tembus 50 Persen pada Juli 2026

1 Agu 2026

Panduan Digital Parenting, Cara Melindungi Anak dari Bahaya Internet di Era Digital

Literasi Digital

Panduan Digital Parenting, Cara Melindungi Anak dari Bahaya Internet di Era Digital

1 Agu 2026

Data Statistik dan Posisi Klasemen Sementara Grup A Piala AFF 2026

Olahraga

Data Statistik dan Posisi Klasemen Sementara Grup A Piala AFF 2026

1 Agu 2026

Strategi Bisnis Industri Keramik, Aspek Keselamatan Jadi Fokus Utama Produsen

Ekonomi & Bisnis

Strategi Bisnis Industri Keramik, Aspek Keselamatan Jadi Fokus Utama Produsen

1 Agu 2026

Fakta Seputar Laporan KWP Terhadap Deddy Sitorus ke MKD

Profesi & Regulasi

Fakta Seputar Laporan KWP Terhadap Deddy Sitorus ke MKD

31 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Transformasi dan Konsolidasi Asuransi BUMN di Bawah Naungan IFGEkonomi Digital 路 31 Jul 2026
  2. 2Realisasi Pendapatan Asli Daerah Sumatera Utara Tembus 50 Persen pada Juli 2026Ekonomi & Keuangan 路 1 Agu 2026
  3. 3Panduan Digital Parenting, Cara Melindungi Anak dari Bahaya Internet di Era DigitalLiterasi Digital 路 1 Agu 2026
  4. 4Data Statistik dan Posisi Klasemen Sementara Grup A Piala AFF 2026Olahraga 路 1 Agu 2026
  5. 5Strategi Bisnis Industri Keramik, Aspek Keselamatan Jadi Fokus Utama ProdusenEkonomi & Bisnis 路 1 Agu 2026
Ekonomi Lokal
Regulasi & Tata Kelola
Hukum & Regulasi
Ekonomi & Pembangunan
Ekonomi & Regulasi
Keamanan Data
Berita Lokal
Ekonomi Makro
Otomotif
Investasi & Keuangan
Nasional
Kebijakan Ekonomi
Infrastruktur
Layanan Publik
Transportasi & Bisnis
Ekonomi & Kebijakan Publik
Kesehatan Konsumen
Ekonomi Global

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap