Memasuki dunia perkuliahan merupakan langkah awal yang sangat menentukan bagi perjalanan karier seseorang di masa depan. Di tengah pesatnya perkembangan ekonomi digital dan ketatnya persaingan di dunia kerja, mahasiswa baru dituntut untuk tidak sekadar mengejar nilai akademis di dalam kelas. Mereka juga harus mulai membangun nalar kritis, kepekaan sosial, serta pemahaman yang mendalam mengenai dinamika ekonomi yang terjadi di masyarakat. Sebuah contoh nyata mengenai bagaimana nalar kritis ini dipupuk sejak dini dapat dilihat dari inisiatif Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (Unair). Organisasi kemahasiswaan ini memilih untuk menyambut ribuan mahasiswa baru dengan cara yang tidak biasa, menjadikannya sebuah momen pengingat bahwa peran mahasiswa sangat krusial dalam mengawal isu hak asasi manusia hingga ketersediaan lapangan kerja.
Momen penyambutan yang penuh makna tersebut berlangsung pada prosesi pengukuhan mahasiswa baru yang diselenggarakan pada Kamis, 30 Juli 2026. Bertempat di Airlangga Convention Center (ACC), Kampus C Unair, BEM Unair mengajak para mahasiswa baru untuk menengok kembali sejarah panjang pergerakan di era reformasi. Di bawah arahan Ketua BEM Unair M Rizqi Senja Virawan, para pengurus membentangkan sebuah poster berukuran 5x1 meter. Poster tersebut secara tegas memuat pesan yang meminta pengembalian Herman Hendrawan dan Petrus Bima Anugrah. Kedua sosok ini merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair pada tahun 1998 yang dinyatakan hilang. Dalam keterangannya pada Sabtu, 1 Agustus 2026, M Rizqi Senja Virawan menegaskan bahwa mereka hilang dan belum kembali hingga kini.








