Pendidikan memiliki peran vital dalam memutus rantai kemiskinan dan meningkatkan taraf ekonomi keluarga. Untuk mewujudkan hal tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung menghadirkan Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Provinsi Lampung. Program ini merupakan inisiatif Presiden Republik Indonesia yang dirancang khusus bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Tujuannya adalah memberikan akses pendidikan yang setara guna mencetak sumber daya manusia unggul yang siap menghadapi tantangan masa depan dan menyambut visi Indonesia Emas pada tahun 2045.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, secara resmi membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah untuk Tahun Ajaran 2026/2027. Pembukaan ini ditandai dengan penyematan atribut secara simbolis kepada calon siswa dalam acara Open House di Kota Baru, Lampung Selatan, pada Jumat, 31 Juli 2026. Melalui langkah ini, pemerintah daerah berupaya memastikan bahwa keterbatasan finansial tidak lagi menjadi penghalang bagi anak-anak daerah untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Sebagai panduan utama penyelenggaraan pendidikannya, Sekolah Rakyat Terintegrasi mengusung tiga prinsip yang dikenal sebagai trilogi pendidikan. Trilogi tersebut mencakup Memuliakan Wong Cilik, Menjangkau yang Belum Terjangkau, dan Memungkinkan yang Tidak Mungkin. Melalui landasan ini, sekolah menyediakan jenjang pendidikan yang komprehensif mulai dari tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, hingga Sekolah Menengah Atas. Semuanya ditujukan untuk anak-anak yang benar-benar membutuhkan, termasuk mereka yang terpaksa putus sekolah akibat kendala ekonomi.
Gubernur Mirza Imbau Masyarakat Lampung Tetap Tenang dan Waspada

Dari sisi fasilitas, program ini dirancang untuk membebaskan siswa dan orang tua dari beban biaya pendidikan maupun biaya hidup sehari-hari. Seluruh peserta didik berhak mendapatkan fasilitas tinggal di asrama secara gratis. Selain itu, mereka juga menerima seragam sekolah, kelengkapan belajar, serta dukungan pembelajaran digital yang sangat penting di era modern saat ini. Kebutuhan nutrisi siswa juga dijamin penuh melalui penyediaan makan tiga kali sehari serta makanan ringan dua kali sehari.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Provinsi Lampung, Asis Prasetyo, menerapkan sistem pembelajaran yang mengacu pada Kurikulum Nasional. Kurikulum ini kemudian diperkuat dengan pendidikan karakter yang intensif melalui sistem asrama. Gubernur Rahmat Mirzani Djausal juga menekankan pentingnya menanamkan kearifan lokal dalam proses pembentukan karakter tersebut. Nilai-nilai filosofi Lampung seperti Piil Pesenggiri, Nemui Nyimah, Sakai Sambayan, dan Nengah Nyappur diintegrasikan agar siswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan tanggung jawab yang tinggi.
Antusiasme masyarakat terhadap program ini terlihat dari lonjakan jumlah penerimaan siswa. Pada tahun sebelumnya, sekolah ini menerima 71 siswa angkatan pertama. Saat ini, total peserta didik telah berkembang pesat mencapai 401 siswa. Angka tersebut terdiri atas 60 siswa SD, 150 siswa SMP, 120 siswa SMA, serta 71 siswa dari angkatan pertama. Untuk menjaga lingkungan belajar yang aman dan kondusif bagi ratusan siswa tersebut, sekolah menerapkan aturan tegas tanpa toleransi terhadap segala bentuk perundungan, kekerasan fisik maupun seksual, serta intoleransi dan radikalisme.
Gubernur Lampung Alihkan KBM ke Daring Akibat Sebaran Abu Anak Krakatau

Pencapaian para siswa di sekolah ini terbukti sangat menjanjikan meski baru berjalan dalam waktu singkat. Dalam kurun waktu satu tahun, siswa angkatan pertama telah menunjukkan kemampuan berbahasa asing yang luar biasa, meliputi bahasa Inggris, Jepang, dan Arab. Pada kegiatan Open House, para siswa tampil percaya diri sebagai pembawa acara menggunakan bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang. Mereka juga membawakan pidato dalam bahasa Inggris, Jepang, dan Arab, serta menampilkan Tari Sigeh Pengunten sebagai wujud nyata pelestarian budaya daerah.
Keberhasilan program pendidikan ini juga tercermin dari kisah inspiratif para siswanya. Muhammad Ridwan Pratama, siswa kelas IX asal Sukaraja yang berlatar belakang sebagai anak buruh bengkel, berhasil meraih medali emas pada kejuaraan karate. Selain itu, terdapat Dewi Bunga Lestari, calon siswi asal Pringsewu yang sebelumnya terpaksa berhenti sekolah selama dua tahun karena masalah biaya. Kini, ia kembali memiliki kesempatan belajar dengan cita-cita besar untuk menjadi anggota Polri dan melanjutkan studi ke Turki melalui jalur beasiswa.






