PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengalkulasi potensi kehilangan laba hingga mencapai Rp 14,5 triliun akibat alokasi pasokan batu bara untuk kebutuhan pasar domestik atau Domestic Market Obligation (DMO) yang jauh melampaui ketentuan minimal pemerintah.
Emiten pertambangan pelat merah ini secara konsisten mengalokasikan lebih dari 54% dari total produksi tahunannya untuk kebutuhan dalam negeri. Angka tersebut tercatat lebih dari dua kali lipat dari batas kewajiban minimal yang dipatok regulator, yakni sebesar 25%.
Berdasarkan perhitungan internal perseroan, estimasi pengikisan potensi laba sebesar Rp 14,5 triliun tersebut merupakan akumulasi dari selisih pasokan DMO di atas 25% sepanjang periode 2018 hingga 2025. Alokasi domestik yang tinggi membuat volume batu bara yang dapat dijual ke pasar ekspor dengan margin harga internasional menjadi terbatas.
Laba Usaha InJourney Naik 10%, Ini Pesan BP BUMN

Realisasi Pasokan Domestik 2026
Untuk tahun 2026, PTBA mematok target alokasi batu bara DMO sebesar 17,7 juta ton. Hingga periode Agustus 2026, realisasi pengiriman batu bara untuk kebutuhan dalam negeri telah menyentuh angka 12,8 juta ton, atau setara dengan 45% dari total volume produksi perusahaan.
Khusus pada Semester I-2026, porsi alokasi domestik perseroan tercatat berada di level 51% atau setara 10,77 juta ton. Pasokan tersebut didistribusikan untuk menyokong kebutuhan PT PLN (Persero), pembangkit listrik mulut tambang, serta sektor industri strategis seperti semen dan pupuk.
Pada saat yang sama, volume penjualan ekspor PTBA pada paruh pertama 2026 tercatat tumbuh 5% menjadi 10,33 juta ton. Pengiriman luar negeri tersebut didominasi oleh negara tujuan seperti Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand. Secara keseluruhan, total volume produksi batu bara perseroan mencapai 19,45 juta ton dengan realisasi penjualan kumulatif sebesar 21,1 juta ton pada Semester I-2026.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Kinerja Finansial dan Posisi Cadangan
Kendati porsi pasar domestik menyerap mayoritas produksi, kinerja keuangan PTBA pada paruh pertama 2026 tetap mencatatkan ekspansi. Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 22,03 triliun pada Semester I-2026, naik 8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini diikuti lonjakan laba bersih sebesar 218% secara tahunan menjadi Rp 2,65 triliun.
Dari sisi profil operasional nasional, PTBA saat ini menguasai cadangan batu bara sebesar 2,88 miliar ton atau sekitar 9,01% dari total cadangan nasional yang mencapai 97,96 miliar ton. Dengan kapasitas tersebut, tingkat produksi tahunan perseroan berada di urutan kelima terbesar di Indonesia, di bawah produsen batubara lain seperti Bumi Resources, Adaro, dan Bayan Resources.






