Pekanbaru diselimuti kabut asap, kualitas udara tidak sehat, dan jarak pandang mengalami penurunan signifikan imbas dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Pulau Sumatera. Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, partikel polutan dan sebaran asap terpantau mengaburkan pandangan serta menurunkan kualitas udara hingga ke tingkat yang membahayakan kesehatan warga.
Fluktuasi konsentrasi partikulat serta pergerakan asap dari wilayah sekitar membuat kualitas udara di ibu kota Provinsi Riau tersebut berada dalam kondisi kritis selama sebagian besar waktu pemantauan.
Kondisi Kualitas Udara dan Jarak Pandang di Pekanbaru
Catatan BMKG Stasiun Pekanbaru menunjukkan kabut asap telah memangkas jarak pandang di Kota Pekanbaru hingga berada di kisaran 2,5 kilometer. Informasi pembaruan data yang disampaikan oleh Prakirawan BMKG Stasiun Pekanbaru, Yudhistira, pada Minggu pukul 16.00 WIB merinci kondisi jarak pandang di sejumlah titik pengamatan:
- Kota Pekanbaru: 2,5 kilometer (kondisi kabut asap)
- Rengat: 5 kilometer (kondisi kabut asap)
- Pelalawan: 6 kilometer
- Tambang: 9 kilometer
Penurunan jarak pandang tersebut berbanding lurus dengan memburuknya kualitas udara. Sepanjang hari pemantauan, kualitas udara kategori baik hanya sempat terdeteksi selama beberapa jam singkat, yakni pada rentang pukul 04.00–06.00 WIB dan pukul 11.00–13.00 WIB.
Memasuki sore hari, tingkat pencemaran udara melonjak drastis. Pada pukul 17.00 WIB hingga 18.00 WIB, indeks kualitas udara berada pada kategori sangat tidak sehat dengan konsentrasi partikulat PM 2,5 mencapai angka 170 mikrogram per meter kubik.
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

Sebaran 1.754 Titik Panas di Wilayah Sumatera
Kemunculan kabut asap pekat di Pekanbaru dipicu oleh maraknya kebakaran lahan di berbagai kawasan Sumatera. Pantauan satelit BMKG pada Minggu sore (23/8) mencatat total 1.754 titik panas (hotspot) yang tersebar di sepuluh provinsi.
Sebaran titik panas di wilayah Pulau Sumatera meliputi:
- Sumatera Selatan: 973 titik
- Riau: 306 titik
- Jambi: 198 titik
- Lampung: 119 titik
- Bangka Belitung: 87 titik
- Kepulauan Riau: 36 titik
- Sumatera Utara: 16 titik
- Sumatera Barat: 10 titik
- Aceh: 5 titik
- Bengkulu: 4 titik
Sumatera Selatan menjadi wilayah penyumbang titik panas terbanyak, disusul langsung oleh Provinsi Riau sebagai wilayah dengan akumulasi titik panas tertinggi kedua di Sumatera.
Konsentrasi Titik Panas di Wilayah Provinsi Riau
Di tingkat lokal Provinsi Riau, 306 titik panas tersebar di berbagai kabupaten dan kota dengan konsentrasi utama berada di wilayah pesisir dan dataran rendah. Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hilir menjadi dua daerah dengan kontribusi kebakaran lahan terbesar.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Rincian titik panas di kabupaten dan kota se-Provinsi Riau tercatat sebagai berikut:
- Kabupaten Pelalawan: 161 titik
- Kabupaten Indragiri Hilir: 101 titik
- Siak: 20 titik
- Rokan Hulu: 5 titik
- Indragiri Hulu: 5 titik
- Kuantan Singingi: 4 titik
- Rokan Hilir: 4 titik
- Kota Dumai: 1 titik
Tingginya jumlah titik panas di Pelalawan dan Indragiri Hilir berkontribusi besar terhadap pekatnya kabut asap yang terbawa angin menuju wilayah permukiman dan pusat aktivitas di Pekanbaru.
Pemantauan BMKG dan Langkah Mitigasi Kesehatan
Kondisi kualitas udara yang menembus level sangat tidak sehat pada sore hari memerlukan kewaspadaan tinggi, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan. Konsentrasi PM 2,5 yang melampaui ambang batas aman berisiko memicu gangguan saluran pernapasan akut, iritasi mata, serta memperberat kondisi penderita asma.
BMKG Stasiun Pekanbaru terus melakukan pembaruan berkala terhadap dinamika jarak pandang dan konsentrasi partikel polutan udara. Warga di kawasan terdampak kabut asap diimbau untuk membatasi aktivitas fisik terbuka saat kualitas udara memburuk serta menggunakan pelindung pernapasan yang memadai hingga konsentrasi asap terurai.






