Desa Sepatin yang berlokasi di Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, saat ini sedang menghadapi tantangan ekonomi yang cukup signifikan bagi para pelaku usaha budidaya perikanan. Tantangan utama tersebut berupa penurunan produktivitas tambak yang terus terjadi dari waktu ke waktu. Kondisi ini berbanding terbalik dengan situasi pada era 1990-an, di mana kawasan pesisir di wilayah tersebut masih didominasi oleh ekosistem hutan mangrove yang lebat. Menghadapi tren penurunan hasil panen yang berdampak pada pendapatan masyarakat, Kelompok Tani Hutan atau KTH Gemilang Sejahtera Abadi mengambil langkah proaktif. Mereka secara langsung mengajak para petambak di Desa Sepatin untuk kembali menanam mangrove sebagai upaya strategis memulihkan produktivitas tambak yang terus menurun tersebut.
Ketua KTH Gemilang Sejahtera Abadi, Asharudin, mengungkapkan realita yang dihadapi oleh para petambak setempat. Ia mengaku merasakan langsung perubahan hasil tambak yang semakin menyusut dalam beberapa dekade terakhir. Penurunan produktivitas ini menjadi dorongan utama bagi kelompoknya untuk mengajak para petambak mencoba kembali menanam mangrove di sekitar area budidaya mereka. Harapannya, langkah uji coba penanaman kembali ini dapat mengembalikan kondisi lingkungan ke bentuk hutan asalnya seperti pada tahun 1990-an silam, saat hasil tambak masih sangat memadai. Perubahan dari era kejayaan tersebut hingga periode tahun 2020 ke atas menjadi titik balik kesadaran warga akan pentingnya keseimbangan ekosistem pesisir bagi keberlangsungan ekonomi tambak.
Upaya pemulihan kondisi tambak melalui penanaman mangrove ini bukan tanpa bukti nyata di lapangan. Pandangan dan pengalaman positif turut disampaikan oleh Ketua KTH Mangrove Borneo, Andi Firmansyah. Ia mengaku mulai merasakan perbaikan kondisi tambaknya secara langsung setelah mengambil inisiatif penanaman kembali. Spesies yang dipilih dan ditanam di sekitar tambaknya adalah mangrove jenis Rhizophora. Keberadaan vegetasi Rhizophora di sekitar area budidaya tersebut terbukti membawa dampak perbaikan pada kondisi tambak yang ia kelola sendiri. Pengalaman ini memberikan gambaran yang jelas bagi petambak lain bahwa integrasi antara budidaya perikanan dan pelestarian mangrove dapat berjalan beriringan untuk mendukung perbaikan hasil.
Rehabilitasi Ekosistem Mangrove di Desa Baadale Rote Ndao

Langkah rehabilitasi yang dilakukan oleh masyarakat Desa Sepatin ini sejalan dengan agenda pemulihan lingkungan skala besar yang terangkum dalam program Mangroves for Coastal Resilience atau M4CR. Program M4CR merupakan sebuah inisiatif rehabilitasi mangrove strategis yang mendapatkan dukungan penuh dari Bank Dunia. Implementasi program ini tidak hanya terpusat di satu wilayah, melainkan dilaksanakan secara luas di empat provinsi di Indonesia. Keempat provinsi tersebut meliputi Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Riau, dan Sumatera Utara. Melalui dukungan dari Bank Dunia dan keterlibatan berbagai pihak, program ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pesisir sekaligus memulihkan potensi ekonomi masyarakat yang bergantung pada hasil tambak.
Keterlibatan KTH Gemilang Sejahtera Abadi dalam program M4CR telah menunjukkan pencapaian yang terukur berdasarkan dokumen pelaksanaan program. Pada tahun 2025, kelompok tani hutan tersebut telah melaksanakan kegiatan rehabilitasi mangrove yang mencakup area seluas 121 hektare. Dari total luasan lahan yang direhabilitasi pada periode tersebut, tingkat keberhasilan tumbuh tanaman dilaporkan mencapai angka 79 persen. Persentase keberhasilan hidup sebesar 79 persen ini menjadi indikator penting bahwa lahan pesisir di kawasan tersebut masih memiliki daya dukung yang baik untuk ditanami kembali, yang pada gilirannya akan mendukung perbaikan ekosistem tambak di sekitarnya.
Cara Menyesuaikan Operasional Bisnis dengan Aturan Akuntabilitas Korporasi KUHP Nasional

Komitmen untuk memulihkan kawasan pesisir Kutai Kartanegara terus berlanjut ke tahun berikutnya. Pada tahun 2026, KTH Gemilang Sejahtera Abadi kembali melaksanakan proyek rehabilitasi mangrove yang menyasar area seluas 106 hektare, di mana proses pengerjaannya masih terus berlangsung. Dalam pelaksanaan di lapangan, kelompok ini tidak sekadar menanam pohon, tetapi juga menjalankan serangkaian kegiatan teknis yang komprehensif. Kegiatan tersebut mencakup persemaian bibit, pemeliharaan tanaman, hingga pemantauan perkembangan tanaman secara berkala. Seluruh proses teknis rehabilitasi mangrove di kawasan pesisir ini selalu melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat setempat, sehingga upaya pemulihan produktivitas tambak ini benar-benar berakar dari kekuatan ekonomi dan sosial warga lokal.






