Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi fokus perhatian utama dalam upaya penanggulangan bencana di Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat luasan lahan yang terbakar di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) telah mencapai sekitar 8.900 hektare. Besaran luasan area yang terbakar ini menunjukkan tingginya eskalasi kebakaran lahan yang memerlukan penanganan terpadu, terarah, dan berkelanjutan dari seluruh pemangku kepentingan, baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah.
Dalam merespons situasi kedaruratan ini, BNPB tidak hanya memusatkan perhatian pada satu wilayah saja, melainkan mengoordinasikan penanganan karhutla yang terjadi secara serentak di enam provinsi di Indonesia. Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi BNPB, Brigjen TNI Djohan Darmawan, menyatakan bahwa BNPB bersama para pihak terkait terus mengerahkan personel dan berbagai sarana pendukung guna menanggulangi karhutla secara optimal di seluruh wilayah yang terdampak.
Langkah penanganan ini mencakup koordinasi lintas sektoral yang melibatkan pengerahan ribuan personel darat, penggelaran armada udara dari Satgas Udara di beberapa provinsi, serta penyiagaan perlengkapan pendukung taktis darat untuk menjangkau lokasi-lokasi kebakaran yang sulit diakses. Kolaborasi ini bertujuan untuk mengendalikan sebaran titik api, mencegah timbulnya kabut asap yang meluas, serta menjaga stabilitas aktivitas masyarakat di sekitar kawasan terdampak.
Eskalasi Kebakaran Lahan di Kalimantan Selatan dan Dampak Kabut Asap
Berdasarkan pencatatan data yang dihimpun oleh BNPB, luasan kebakaran lahan di Kalimantan Selatan yang mencapai sekitar 8.900 hektare mencerminkan tingginya intensitas kebakaran di wilayah tersebut. Angka luasan sekitar 8.900 hektare ini menjadi indikator penting mengenai besarnya tantangan yang dihadapi oleh tim gabungan di lapangan dalam mengendalikan pembakaran biomassa dan vegetasi.
Salah satu dampak nyata dari kebakaran lahan yang melanda Kalimantan Selatan adalah kemunculan kabut asap. BNPB mengonfirmasi bahwa kabut asap sempat muncul dan menyelimuti wilayah Kalimantan Selatan pada tanggal 19 hingga 20 Agustus. Kemunculan kabut asap pada rentang waktu tersebut menandakan tingginya pembentukan asap akibat kebakaran vegetasi di area-area yang mengalami kebakaran cukup hebat.
Keberadaan kabut asap yang sempat terjadi pada 19-20 Agustus tersebut menjadi perhatian serius dalam operasi pemadaman. Asap dari karhutla berpotensi mempengaruhi jarak pandang dan kebersihan udara di kawasan pemukiman serta jalur transportasi. Oleh karena itu, percepatan pemadaman api di permukaan maupun pembasahan bara di bawah permukaan tanah menjadi langkah krusial yang terus diupayakan untuk mencegah kemunculan kabut asap susulan di Kalimantan Selatan.
Pemetaan Konsentrasi Titik Panas di Kawasan Strategis dan Sekitar Bandara
Dalam proses pemantauan lapangan, BNPB mencatat keberadaan sejumlah titik panas (hotspot) dengan intensitas yang cukup tinggi di wilayah Kalimantan Selatan. Brigjen TNI Djohan Darmawan mengungkapkan bahwa titik panas dengan intensitas cukup tinggi tersebut terpantau terkonsentrasi di beberapa titik penting, khususnya di area Ring 1 yang berada dekat dengan kawasan bandara.
Keberadaan titik panas dengan intensitas tinggi di area Ring 1 dekat bandara menjadi fokus pengawasan intensif, mengingat kawasan sekitar bandara merupakan zona vital transportasi publik. Keamanan ruang udara di dekat fasilitas penerbangan harus dijaga dari ancaman asap tebal agar aktivitas penerbangan tetap dapat berjalan dengan aman dan lancar tanpa gangguan jarak pandang.
Selain berada di kawasan Ring 1 yang mendekati bandara, titik panas dengan intensitas cukup tinggi di Kalimantan Selatan juga terpantau di beberapa wilayah administratif lainnya, yaitu di Kota Banjar, Kota Banjarbaru, dan Kabupaten Tanah Laut. Konsentrasi titik panas di Kota Banjar, Kota Banjarbaru, serta Kabupaten Tanah Laut memperlihatkan bahwa titik api berada di dekat pusat-pusat kegiatan masyarakat dan jalur perhubungan antarkota, sehingga membutuhkan tindakan pemadaman yang cepat dan terukur dari tim pemadam kebakaran gabungan.
Mobilisasi Ribuan Personel Gabungan dan Kekuatan Satgas Udara di Kalsel
Guna mengendalikan dan memadamkan kebakaran lahan seluas sekitar 8.900 hektare di Kalimantan Selatan, operasi penanganan darurat digencarkan dengan mengerahkan kekuatan darat secara masif. Setidaknya sekitar 9.800 personel gabungan telah dikerahkan ke berbagai titik kebakaran di Kalimantan Selatan untuk melakukan pemadaman secara terkoordinasi.
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

Ribuan personel gabungan tersebut diterjunkan untuk menangani api di lapangan, menyisir area-area yang masih membara, serta memastikan bahwa titik-titik panas yang terpantau di sekitar kawasan Ring 1 bandara, Kota Banjar, Kota Banjarbaru, dan Kabupaten Tanah Laut dapat dipadamkan sepenuhnya guna mencegah api menjalar lebih jauh ke wilayah lainnya.
Selain pengerahan sekitar 9.800 personel gabungan di darat, operasi pemadaman di Kalimantan Selatan juga diperkuat dengan menyiagakan sembilan unit helikopter. Keberadaan sembilan unit helikopter ini disiagakan untuk mendukung pemadaman dari udara serta melakukan pemantauan jalur api di lokasi-lokasi yang sulit ditembus oleh operasi darat secara cepat.
Integrasi antara 9.800 personel darat dan sembilan unit helikopter yang disiagakan ini memastikan strategi pemadaman terpadu dapat berjalan seiring. Personel darat bergerak mematikan bara api di permukaan, sementara helikopter Satgas Udara memberikan dukungan intervensi udara pada titik-titik api yang membutuhkan penanganan segera.
Gelar Operasi Udara BNPB dan Penyiagaan Pangkalan Satgas di Kalimantan Barat
Penanganan kebakaran hutan dan lahan oleh BNPB juga dilaksanakan secara terorganisasi di Provinsi Kalimantan Barat. Di wilayah Kalimantan Barat, BNPB telah mengoperasionalkan sebanyak 11 unit helikopter untuk mendukung seluruh rangkaian pemantauan dan operasi penanggulangan karhutla dari udara.
Dari total 11 unit helikopter yang dioperasikan di Kalimantan Barat tersebut, BNPB menyiagakan enam unit helikopter untuk tugas water bombing (pengeboman air). Keberadaan enam unit water bombing ini memiliki peranan strategis dalam menjatuhkan air langsung di atas titik api aktif guna meredam kobaran api di kawasan hutan dan lahan yang luas.
Untuk menunjang efektivitas manuver serta kelancaran distribusi logistik operasi udara di Kalimantan Barat, BNPB menyiagakan dua pangkalan operasi atau base Satgas Udara. Base Satgas Udara pertama ditempatkan di Bandara Supadio, sedangkan base kedua disiagakan di Ketapang. Penempatan dua basis pangkalan di Bandara Supadio dan Ketapang ini dirancang agar armada helikopter memiliki jangkauan terbang yang fleksibel dan mampu merespons titik panas dalam waktu yang lebih singkat.
Pergeseran Armada Udara untuk Memperkuat Wilayah Rawan di Kalimantan Barat
Dalam rangka meningkatkan efisiensi pemadaman titik api yang terpantau, BNPB menerapkan strategi penyesuaian penempatan armada helikopter di Kalimantan Barat. Brigjen TNI Djohan Darmawan menjelaskan bahwa unit-unit helikopter patroli dan water bombing digeser untuk memperkuat daerah-daerah yang terdampak di wilayah Kalimantan Barat.
Pergeseran armada helikopter patroli dan water bombing ini secara khusus diarahkan ke wilayah bagian selatan Kalimantan Barat. Wilayah-wilayah yang menjadi prioritas penguatan tersebut mencakup Kabupaten Ketapang, Kayong Utara, dan Kubu Raya. Penguatan di Ketapang, Kayong Utara, dan Kubu Raya dilakukan untuk memastikan penanganan kebakaran di daerah terdampak dapat berjalan optimal.
Dengan pergeseran unit helikopter patroli dan helikopter water bombing ke Ketapang, Kayong Utara, dan Kubu Raya, pemantauan dan intervensi udara dapat dilakukan lebih dekat dengan pusat kebakaran. Langkah penataan pangkalan dan pergeseran armada ini mempercepat respons pemadaman dari udara terhadap titik-titik api yang baru terdeteksi.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Penguatan Satuan Helikopter dan Basis Operasi Udara di Kalimantan Tengah
Provinsi Kalimantan Tengah turut menjadi prioritas utama penanganan karhutla oleh BNPB. Di provinsi ini, BNPB mengerahkan armada udara dengan kekuatan sebanyak 10 unit helikopter untuk mengamankan wilayah Kalimantan Tengah dari meluasnya kebakaran hutan dan lahan.
Komposisi 10 unit helikopter yang dikerahkan ke Kalimantan Tengah tersebut terdiri atas tiga unit helikopter jenis Bell, satu unit pesawat jenis Caravan yang memiliki fungsi serbaguna untuk patroli udara maupun pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta enam unit helikopter water bombing. Keberadaan pesawat Caravan memberikan fleksibilitas taktis dalam memantau wilayah sebaran api sekaligus melakukan modifikasi cuaca apabila dibutuhkan.
Operasi udara di Kalimantan Tengah didukung oleh kesiapan dua base pangkalan udara. BNPB menyiapkan dua base untuk mendukung operasional armada tersebut, di mana base pertama berada di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, sedangkan base kedua disiapkan di Kabupaten Sampit. Keberadaan dua basis di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya dan Kabupaten Sampit memastikan cakupan wilayah operasional udara di Kalimantan Tengah terkelola dengan baik.
Penyediaan Sarana Dukungan Darat dan Peralatan Taktis Penembus Medan Sulit
Selain menggelar operasi udara yang masif, BNPB juga memperkuat kemampuan tim darat melalui penyediaan sarana dan prasarana pendukung penanggulangan karhutla. Penanganan kebakaran lahan sering kali terkendala oleh kondisi geografis dan keterbatasan akses jalan menuju ke titik api.
Untuk mengatasi kendala medan tersebut, BNPB telah menyiapkan lima unit motor trail. Lima unit motor trail ini dirancang secara khusus untuk digunakan personel pemadam dalam menjangkau lokasi-lokasi kebakaran yang hanya bisa dilewati melalui jalan setapak sempit, sehingga personel dapat tiba di titik api tanpa terhambat akses medan.
Selain lima unit motor trail, BNPB juga menyiapkan sarana pendukung lain berupa mobil tangki air, pompa-pompa berukuran kecil, serta tandon air lentur (flexible tank). Penyiagaan mobil tangki air berfungsi memasok kebutuhan air pemadaman, sedangkan pompa kecil dan flexible tank memudahkan tim lapangan mendirikan titik penampungan dan pemompaan air langsung di dekat area kebakaran.
Koordinasi Terpadu Penanggulangan Karhutla di Enam Provinsi Terdampak
Penanggulangan kebakaran hutan dan lahan yang dipimpin oleh BNPB bersama para pihak terkait dilaksanakan di enam provinsi. Langkah ini menjadi wujud koordinasi komprehensif dalam menanggulangi ancaman bencana kebakaran lahan secara serentak di berbagai wilayah Indonesia.
Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi BNPB Brigjen TNI Djohan Darmawan menegaskan bahwa seluruh personel gabungan, armada udara, serta fasilitas pangkalan yang telah disiagakan akan terus dioptimalkan. Pengerahan 9.800 personel di Kalimantan Selatan, pangkalan Satgas Udara di Bandara Supadio dan Ketapang di Kalimantan Barat, serta pangkalan di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya dan Kabupaten Sampit di Kalimantan Tengah menunjukkan keterpaduan operasi.
Melalui sinergi antara operasi darat dengan dukungan sarana motor trail, mobil tangki air, pompa kecil, dan flexible tank, serta operasi udara menggunakan helikopter patroli, water bombing, dan pesawat Caravan OMC, BNPB bersama para pihak terkait terus berupaya mengendalikan kebakaran lahan seluas sekitar 8.900 hektare di Kalimantan Selatan dan menuntaskan penanganan karhutla di seluruh provinsi yang terdampak.






