Langkah penting diambil oleh Presiden Prabowo Subianto dalam menentukan arah kebijakan moneter nasional. Presiden secara resmi mengajukan nama Destry Damayanti sebagai calon Gubernur Bank Indonesia (BI). Bersamaan dengan itu, Presiden Prabowo Subianto juga menominasikan Aida S Budiman untuk menduduki posisi sebagai calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI). Keputusan strategis ini diharapkan dapat memperkuat struktur kepemimpinan di bank sentral Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi ke depan.
Menanggapi usulan tersebut, Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, memberikan pandangannya kepada media di Jakarta pada Rabu, 19 Agustus 2026. Said menyatakan bahwa keputusan Presiden Prabowo untuk mengajukan Destry dan Aida merupakan sebuah pilihan teknokrasi. Kestabilan kepemimpinan di bank sentral sebelumnya telah terbukti ketika pasar tidak mengalami gejolak yang berarti saat Perry Warjiyo mengundurkan diri sebagai Gubernur BI. Pada masa transisi tersebut, kepemimpinan sementara BI dipegang oleh Destry bersama jajaran tim yang sudah bekerja selama ini.
Prabowo Perintahkan Siapkan 2 Juta Hektare Lahan Tebu untuk Program BBM E20

Said Abdullah juga menyoroti tantangan besar yang harus dihadapi oleh pimpinan baru bank sentral kelak. Mandat utama Bank Indonesia tetap berkaitan erat dengan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi. Namun, melalui regulasi baru, BI kini juga memperoleh tugas tambahan untuk turut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional serta pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Untuk menyelaraskan tugas-tugas ini, kolaborasi erat dengan pemerintah sangat dibutuhkan. Said menilai bahwa saat ini Indonesia belum memiliki narasi kebijakan yang cukup kuat untuk mengerangkai arah kebijakan fiskal dan moneter. Hal inilah yang perlu segera dirumuskan oleh Menteri Keuangan bersama pimpinan BI yang baru.
Jorindo Agung Siapkan Langkah Ekspansi ke Sektor Energi Hijau

Tantangan perumusan kebijakan ini kian mendesak di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Sebagai contoh, Tiongkok selama ini cenderung menjaga daya saing produk ekspornya di pasar global dengan mempertahankan nilai tukar yuan yang relatif lemah terhadap dolar AS. Di sisi lain, Amerika Serikat menghadapi tekanan inflasi dan persoalan defisit perdagangan, terutama pasca perang Rusia-Ukraina pada tahun 2022 yang memicu lonjakan harga berbagai komoditas global. Situasi tersebut mendorong Amerika Serikat untuk mempertahankan kebijakan ekonomi yang cenderung memperkuat nilai tukar dolar AS. Dengan latar belakang global yang kompleks ini, duet kepemimpinan baru BI diharapkan mampu menavigasi kebijakan moneter nasional demi menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.






