Skeptisisme para pelaku usaha mengenai prospek kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran telah memberikan dampak nyata terhadap lalu lintas pelayaran di kawasan Timur Tengah. Ketidakpercayaan pengusaha bahwa kedua pihak akan segera mencapai titik temu membuat lalu lintas kapal yang melintasi Selat Hormuz berada pada level terendah dalam hampir tiga bulan terakhir. Koridor laut strategis ini menjadi pusat perhatian dunia karena ketegangan diplomatik antara Washington dan Teheran yang tak kunjung mereda, sehingga memicu kehati-hatian tingkat tinggi di sektor logistik dan pengiriman energi global.
Penurunan intensitas pelayaran di Selat Hormuz tecermin dari data rata-rata armada yang beroperasi harian. Saat ini, jumlah rata-rata kapal yang melintas di jalur perairan tersebut tercatat hanya 13 unit per hari untuk semua jenis kapal, mulai dari kapal kargo umum hingga kapal tanker minyak. Angka harian ini berada dekat dengan level terendah sejak 12 Mei lalu, masa ketika tingkat pergerakan kapal sangat terbatas. Jika diukur secara keseluruhan, angka 13 unit ini mencerminkan penurunan lalu lintas kapal hingga 90 persen dibandingkan dengan rata-rata harian sebelum terjadinya perang yang mampu mencapai 130 unit kapal.
Ketidakpastian di jalur pelayaran ini terikat erat dengan silang pendapat diplomatik serta pernyataan pejabat tinggi kedua negara. Pejabat keamanan nasional tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyuarakan sikap tegas Teheran dengan menyatakan bahwa jalur perairan Selat Hormuz tidak akan dibuka secara sepenuhnya sampai Washington menyetujui tuntutan yang diajukan oleh pihak Iran. Sikap tegas tersebut menunjukkan bahwa pembukaan akses penuh Selat Hormuz masih bergantung pada kepatuhan AS terhadap posisi Teheran dalam perundingan.
Trump Kian Kalap "Gunduli" Ekonomi Iran, China Siap Jadi Juru Selamat?

Pernyataan Rezaei tersebut sekaligus membantah sinyal optimistis yang sempat muncul dari otoritas Amerika Serikat sebelumnya. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, sebelumnya menyatakan bahwa kesepakatan untuk membuka kembali jalur air tersebut dan memberikan kebebasan bagi kapal-kapal yang melintas dapat segera tercapai. Sinyal positif yang dilontarkan Bessent tersebut sempat memicu respons cepat di pasar komoditas, di mana komentar tersebut turut mendorong aksi jual minyak pada pekan lalu sebelum akhirnya ketidakpastian kembali menyelimuti para pengusaha.
Meskipun jumlah pergerakan kapal secara umum mengalami penurunan drastis, arus pasokan komoditas energi masih tetap diupayakan berjalan. Menteri Energi Chris Wright menyatakan bahwa ekspor minyak melalui jalur Selat Hormuz secara rata-rata telah mencapai 9 juta barel per hari. Menurut Wright, pencapaian volume ekspor minyak tersebut dapat terealisasi karena didorong oleh pengawalan ketat yang dilakukan oleh militer AS pada saat kapal-kapal tanker bergerak melintasi selat itu. Dalam perhitungan logistik minyak, satu unit kapal supertanker sendiri diketahui dapat membawa kapasitas hingga sekitar 2 juta barel minyak.
Terancam Bangkrut, Kennedy Center Pertimbangkan Pasang Nama Trump demi Dana Talangan

Selain faktor pengawalan militer, Wright juga membeberkan fenomena lain yang terjadi di lapangan terkait pelaporan data armada kapal. Ia menyatakan bahwa banyak perusahaan swasta yang meremehkan jumlah kapal yang meninggalkan Selat Hormuz. Hal ini terjadi karena adanya sejumlah kapal yang bergerak secara diam-diam melalui jalur air tersebut. Ketidakakuratan dalam penaksiran jumlah armada yang terlihat oleh publik mengindikasikan bahwa pergerakan riil di perairan tersebut sering kali tidak sepenuhnya terpantau oleh penghitungan komersial standar.
Jika dilihat dari gambaran besar pasokan regional, total ekspor minyak dari negara-negara Teluk saat ini secara rata-rata mencapai 15 juta barel per hari apabila sudah termasuk pengiriman melalui jalur pipa. Kendati demikian, angka pengiriman gabungan ini masih berada di bawah catatan historis sebelum konflik meletus. Sebelum perang terjadi, volume minyak mentah dan produk olahan yang diekspor melalui Selat Hormuz diperkirakan mencapai sekitar 20 juta barel per hari. Perbandingan ini menegaskan bahwa situasi keamanan dan skeptisisme pengusaha terhadap kesepakatan AS-Iran masih membayangi kelancaran arus logistik energi di kawasan Teluk.






