Kelangkaan stok beras premium di pasaran menjadi perhatian setelah Kementerian Pertanian mengungkap temuan terbaru. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengakui bahwa stok beras premium kerap kali langka di pasaran karena sengaja dialihkan sebagai beras fortifikasi. Dalam keterangannya di Jakarta pada hari Jumat, 31 Juli 2026, Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa beras fortifikasi ini pada dasarnya adalah beras khusus yang ditambahkan vitamin. Indikasi pengalihan ini menjadi salah satu penyebab utama berkurangnya ketersediaan beras premium di pasaran.
Pertanyaan: Mengapa pengusaha mengalihkan beras premium menjadi beras fortifikasi?
Jawaban: Pihak Kementerian Pertanian menduga bahwa pengalihan pasokan ini merupakan akal-akalan dari sejumlah pengusaha. Alasan yang digunakan oleh pelaku usaha untuk melakukan peralihan tersebut adalah margin keuntungan penjualan beras premium yang dianggap tipis. Ruang gerak harga beras premium tidak bisa dimainkan secara bebas karena harganya telah dikunci oleh pemerintah. Karena para pengusaha selalu ingin mencari keuntungan yang banyak, mereka memindahkan pasokannya menjadi beras khusus. Dengan mengemasnya sebagai beras fortifikasi, pelaku usaha dapat memperoleh keuntungan yang besar.
Pertanyaan: Bagaimana hasil pengecekan Kementerian Pertanian mengenai standar beras fortifikasi?
Bapanas Minta 11 Provinsi Cabut Izin 25 Merek Beras Fortifikasi Bermasalah

Jawaban: Melalui pengecekan di lapangan, Kementerian Pertanian menemukan fakta bahwa banyak beras fortifikasi yang beredar tidak sesuai dengan standar yang berlaku. Praktik ketidaksesuaian standar ini terjadi ketika kualitas berasnya sebenarnya adalah premium, atau bahkan kualitas medium, tetapi dituliskan sebagai beras khusus atau beras fortifikasi pada kemasannya. Dari total sampel beras fortifikasi terdaftar yang diambil oleh kementerian, tercatat sebanyak 80 persen tidak memenuhi standar tersebut. Saat ini, Kementerian Pertanian telah memegang nama-nama perusahaan atau merek beras fortifikasi yang terbukti tidak sesuai standar.
Pertanyaan: Berapa harga jual rata-rata beras fortifikasi yang menyalahi standar tersebut?
Jawaban: Pengalihan label menjadi beras fortifikasi memungkinkan pelaku usaha menetapkan harga jual yang tidak masuk akal. Berdasarkan sampel data yang diperoleh, rata-rata harga jual beras fortifikasi yang tidak sesuai standar tersebut mencapai Rp 22.665 per kilogram. Lebih mengejutkan lagi, terdapat beberapa merek beras fortifikasi yang dijual di pasaran dengan harga mencapai Rp 42.000 per kilogram. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan tidak menyangka harga jualnya bisa mencapai angka tersebut, dan menyoroti betapa besarnya keuntungan yang didapatkan pengusaha jika menjual dengan harga Rp 42.000 per kilogram.
Pertanyaan: Berapa jumlah merek beras khusus yang sedang diperiksa oleh Kementerian Pertanian?
Kronologi Dosa-Dosa 25 Merek Beras Fortifikasi Abal-Abal Terbongkar

Jawaban: Dalam temuan terbarunya, Kementerian Pertanian mengungkap bahwa saat ini terdapat 15 merek beras fortifikasi yang tengah diperiksa. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa angka 15 tersebut merujuk pada jumlah merek produk yang beredar, bukan jumlah perusahaannya. Seluruh merek tersebut sedang dalam tahap pengawasan dan pengumpulan data di internal Kementerian Pertanian untuk memastikan indikasi peralihan beras premium menjadi beras fortifikasi.
Pertanyaan: Apa tindakan yang akan diambil pemerintah terhadap pelaku usaha terkait temuan ini?
Jawaban: Kementerian Pertanian memastikan bahwa kasus beras fortifikasi yang tidak sesuai standar ini akan diproses lebih lanjut. Kasus tersebut akan diproses ke aparat penegak hukum setelah pengumpulan data di Kementerian Pertanian telah selesai dilakukan. Pelimpahan kepada aparat penegak hukum ini merupakan langkah tegas atas temuan indikasi pengusaha yang melabeli beras kualitas premium dan medium sebagai beras fortifikasi demi meraup keuntungan besar.






