Operasi pencarian dan evakuasi terhadap insiden terbaliknya KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa terus berlangsung. Kapal yang mengangkut 243 penumpang dan kru tersebut sebelumnya dilaporkan hilang kontak pada Minggu (13/9) sekitar pukul 02.00 Wita dalam pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin yang dimulai sejak Sabtu (12/9).
Hingga tahapan penanganan saat ini, sebanyak 114 orang telah ditemukan dengan rincian 108 penumpang selamat dan enam orang dinyatakan meninggal dunia. Sementara itu, 129 korban lainnya masih dinyatakan hilang dan berada dalam target pencarian tim SAR gabungan.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin, I Putu Sudayana, menjelaskan bahwa Tim SAR Gabungan yang melibatkan unsur Basarnas, TNI, Polri, dan BNPB memperluas area penyisiran laut hingga 6.120 mil laut persegi (NM虏). Wilayah operasi tersebut dibagi menjadi enam sektor terpisah dengan cakupan masing-masing sekitar 1.020 NM虏 guna memaksimalkan pelacakan korban.
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

Proses Identifikasi dan Batas Waktu Medis Forensik
Menanggapi temuan korban meninggal, Kepala Biro Kedokteran Kepolisian (Karodokpol) Pusdokkes Polri Brigjen Sumy Hastry Purwanti menegaskan bahwa seluruh korban tenggelam tetap dapat diidentifikasi secara medis selama jenazah belum melampaui batas waktu pembusukan berat.
Hastry menyampaikan bahwa lingkungan perairan memiliki tantangan tersendiri karena mempercepat laju dekomposisi tubuh korban. Menurutnya, kerusakan jaringan tubuh pada jasad yang berada di dalam air umumnya mulai terlihat signifikan setelah memasuki hari kelima pascakejadian.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Untuk menangani proses identifikasi secara komprehensif, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Indonesia telah dikerahkan ke lokasi terkait. Seluruh tim DVI di tingkat Polda di bawah koordinasi Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) disiagakan guna mendukung operasi kemanusiaan ini bersama Basarnas dan instansi pendukung lainnya.
Saat ini, tim DVI telah mendirikan posko Post Mortem di dua titik strategis, yakni Surabaya dan Banjarmasin. Pihak kepolisian mengimbau keluarga korban untuk melengkapi data antemortem, termasuk menyerahkan data rekam medis dan informasi barang atau properti yang dikenakan korban sebelum musibah terjadi guna mempercepat pencocokan data forensik.






