Presiden RI Prabowo Subianto bertolak ke Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Rabu (26/8/2026) untuk meninjau langsung kondisi masyarakat terdampak bencana gempa bumi di Pulau Flores. Agenda kunjungan kerja ini difokuskan untuk memastikan percepatan dan keterpaduan koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, jajaran TNI, Polri, serta seluruh pihak terkait di lapangan.
Berdasarkan data yang dihimpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Senin (24/8/2026), dampak gempa bumi tersebut mencatat 100 korban jiwa, 1.603 korban luka-luka, dan 180.327 orang mengungsi. Jumlah korban meninggal dunia bertambah dari data awal 48 jiwa pada hari pertama dan kedua setelah sejumlah pasien dengan luka berat di fasilitas kesehatan tidak berhasil diselamatkan.
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

Sebelum kunjungan berlangsung, penyaluran logistik dan perlengkapan penunjang telah didistribusikan secara bertahap melalui Sekretariat Presiden sejak 15 hingga 24 Agustus 2026. Pasokan yang dikirimkan meliputi 204,22 ton sembako, 27,71 ton makanan siap saji, 10,29 ton air mineral, stok obat-obatan, tenda, selimut, matras, peralatan komunikasi, serta dua unit instalasi rumah sakit lapangan.
Layanan medis darurat di pesisir Flores juga diperkuat dengan pengerahan fasilitas kapal rumah sakit. KRI Soeharso-990 milik TNI AL telah disandarkan di Pelabuhan Reo, Kabupaten Manggarai, untuk difungsikan sebagai pusat penanganan medis lapangan. Di saat yang sama, Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga beroperasi di kawasan Teluk Nangalirang, Kabupaten Manggarai Timur, guna memperluas jangkauan layanan kesehatan bagi para penyintas.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Penanganan pascabencana di NTT tidak hanya berhenti pada masa tanggap darurat. Pemerintah merencanakan tahap lanjutan berupa rehabilitasi fasilitas umum serta rekonstruksi infrastruktur vital secara bertahap demi memulihkan kehidupan masyarakat terdampak secara berkelanjutan.






