Presiden Prabowo Subianto merencanakan kunjungan kerja ke Sumatra yang dimulai dari Provinsi Riau untuk meninjau secara langsung penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Agenda peninjauan ini difokuskan guna memastikan seluruh tahapan penanggulangan karhutla di lapangan berjalan cepat, terpadu, dan efektif dalam mengendalikan sebaran titik api.
Langkah perluasan fokus penanganan ke wilayah Sumatra dilakukan menyusul peninjauan yang dilakukan Presiden Prabowo di Kalimantan pada Sabtu (22/8) untuk mengawasi langsung pelaksanaan tanggap darurat. Berdasarkan evaluasi dari kunjungan di Kalimantan tersebut, sejumlah langkah percepatan telah direalisasikan secara optimal, mencakup penambahan armada helikopter pemadaman udara (water bombing), penebalan personel pemadaman darat dari unsur TNI, Polri, dan Manggala Agni, hingga penyiagaan fasilitas kesehatan bagi masyarakat yang terdampak kabut asap.
Sebaran Titik Panas dan Luas Kebakaran di Wilayah Sumatra
Berdasarkan data SiPongi dari Kementerian Kehutanan, pemantauan karhutla mencatat keberadaan 2.894 titik panas (hotspot) yang tersebar di 10 provinsi di kawasan Sumatra sepanjang tahun 2026. Merespons eskalasi tersebut, pemerintah memusatkan perhatian dan memperluas penanganan darurat ke tiga wilayah dengan sebaran titik api paling dominan, yakni Sumatra Selatan, Riau, dan Jambi.
Konsentrasi sebaran titik panas di pulau Sumatra tercatat berada di tiga provinsi utama:
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

- Sumatra Selatan: 1.410 titik panas
- Riau: 480 titik panas
- Jambi: 425 titik panas
Dampak kebakaran hutan dan lahan sepanjang tahun 2026 di 10 provinsi se-Sumatra tercatat telah menghanguskan total luasan lahan mencapai 36.047,64 hektare. Tingginya angka luasan lahan yang terbakar menjadi dasar penguatan koordinasi operasi terpadu lintas sektoral di seluruh tingkatan pemerintah daerah.
Strategi Pemadaman Lahan Gambut dan Operasi Terpadu
Penanganan titik api pada ekosistem lahan gambut menjadi salah satu fokus perhatian utama petugas di lapangan. Karakteristik lahan gambut menyebabkan api dapat menjalar di bawah permukaan tanah tanpa terlihat dan berpotensi memicu kebakaran kembali di titik yang sama. Kondisi tersebut menuntut strategi pemadaman darat khusus yang meliputi penyiraman, pembasahan gambut secara intensif, dan penyisiran berulang guna memastikan bara api di bawah tanah benar-benar padam secara tuntas.
Untuk mengatasi karhutla secara menyeluruh, pemerintah terus memperkuat pelaksanaan operasi terpadu yang memadukan kekuatan operasi darat dan pemadaman dari udara melalui rangkaian tindakan strategis berikut:
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

- Pengerahan personel darat secara berkelanjutan dari unsur TNI, Polri, serta Manggala Agni.
- Pelaksanaan patroli darat secara intensif untuk memantau kawasan rawan dan melakukan pemadaman dini.
- Pengoperasian armada helikopter water bombing guna menjangkau lokasi-lokasi kebakaran yang sulit diakses jalur darat.
- Pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memicu hujan buatan dan membasahi area gambut yang mengalami kekeringan.
Dampak Kualitas Udara di Pekanbaru, Jambi, dan Palembang serta Penyelidikan Konsesi
Kebakaran lahan yang terus meluas memicu penurunan signifikan pada mutu udara di berbagai kota besar di Sumatra. Berdasarkan data pemantauan Air Quality Index (AQI), konsentrasi partikel polusi akibat asap karhutla telah berada pada tingkat yang mengancam kesehatan masyarakat:
- Pekanbaru: AQI 225 (kategori sangat tidak sehat)
- Jambi: AQI 187
- Palembang: AQI 180
Sejalan dengan upaya pemadaman dan mitigasi dampak polusi udara terhadap kesehatan publik, aparat penegak hukum juga bergerak mengambil tindakan tegas. Proses penyelidikan resmi telah dimulai terhadap sejumlah area konsesi milik korporasi. Penyelidikan ini menyasar pihak-pihak perusahaan yang area konsesinya terbukti mengalami kebakaran maupun pihak yang dinilai lalai dalam menjaga dan mengamankan lahannya dari ancaman kebakaran.






