Sebanyak 179.037 warga di Nusa Tenggara Timur (NTT) bertahan di pengungsian dengan sebagian di antaranya memilih berpindah ke daerah-daerah terpencil. Tingginya kekhawatiran warga untuk kembali ke kediaman mereka dipicu oleh trauma gempa susulan serta maraknya isu bohong yang beredar luas di media sosial pascabencana.
Kondisi tersebut dilaporkan langsung oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat koordinasi di Posko Penanganan Bencana, Nagekeo, Rabu (26/8/2026). BNPB mengungkapkan bahwa masyarakat banyak terpapar rumor yang mengeklaim akan datang gempa dengan magnitudo lebih besar hingga ancaman tsunami, sehingga ribuan warga memilih bertahan sebagai pengungsi mandiri di kawasan perbukitan dan pelosok.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tercatat 7.259 kali gempa susulan sejak gempa utama bermagnitudo 7,7 terjadi pada Sabtu (15/8/2026) hingga Selasa (25/8/2026). Dari ribuan aktivitas seismik tersebut, sebanyak 143 gempa dirasakan langsung oleh masyarakat dengan getaran terkuat mencapai M 6,2. BMKG mengonfirmasi bahwa tidak ada gempa susulan yang kekuatannya melebihi gempa utama.
Hingga data termutakhir Selasa (25/8/2026) pukul 17.00 WIB, bencana gempa NTT tercatat mengakibatkan 105 orang meninggal dunia dan 1.678 orang mengalami luka-luka. Kerusakan infrastruktur fisik mencakup 81.436 unit rumah warga serta 1.951 unit fasilitas umum.
Pujian Prabowo ke Pramono Meski Tak Separtai Mengemuka di Peresmian LRT

Untuk mempermudah penanganan dan pemenuhan kebutuhan logistik, BNPB mengimbau warga terdampak agar secara bertahap bersedia menempati pos pengungsian terpusat. Pemerintah daerah bersama instansi terkait saat ini menggencarkan sosialisasi dan edukasi kebencanaan di lapangan guna menangkal peredaran hoaks serta meredakan kepanikan masyarakat.






