Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyiapkan 50 tenda ruang kelas darurat guna memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung setelah gempa bumi mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus lalu. Tenda-tenda darurat tersebut mulai didistribusikan ke sejumlah wilayah terdampak di Pulau Flores.
Berdasarkan data Kemendikdasmen per 16 Agustus, tercatat sebanyak 253 satuan pendidikan terdampak bencana ini. Kerusakan tersebar di tujuh kabupaten, mencakup Ngada, Nagekeo, Ende, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, dan Sikka. Sebanyak 199 fasilitas pendidikan berada di jenjang PAUD/TK, SD, SMP, serta SKB di bawah kewenangan kabupaten, sedangkan 54 satuan pendidikan jenjang SMA/SMK/SLB berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi.
Kabupaten Manggarai Timur mencatat dampak kerusakan terparah dengan total 104 satuan pendidikan terdampak, termasuk 33 SD dan 18 SMP/MTs. Sementara itu, Kabupaten Manggarai Barat mencatatkan 52 satuan pendidikan terdampak. Bencana ini juga menelan korban jiwa dari lingkungan satuan pendidikan, yakni dua orang murid dan satu orang guru.
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

Penanganan dan Skema Pembelajaran Darurat
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mengarahkan sekolah yang bangunannya rusak untuk menghentikan sementara aktivitas di ruang kelas terdampak. Pembelajaran dialihkan ke ruangan yang dinilai aman, menggunakan tenda kelas darurat, atau diliburkan sementara sesuai kondisi faktual masing-masing wilayah.
Kemendikdasmen juga menerjunkan tim lintas direktorat ke lokasi bencana untuk mempercepat asesmen, verifikasi kerusakan fisik, serta mengoordinasikan pemulihan fasilitas pendidikan. Bagi sekolah dengan struktur bangunan yang masih aman, proses pembersihan mulai didorong bersamaan dengan koordinasi pemanfaatan anggaran belanja tambahan untuk pemenuhan sarana dan alat belajar.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Di samping penyediaan tenda fisik, kementerian menyiapkan dukungan psikososial bagi warga sekolah melalui kerja sama dengan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). Untuk mengatasi kendala infrastruktur di area yang mengalami gangguan listrik dan jaringan komunikasi, Kemendikdasmen turut menyiapkan fasilitas konektivitas menggunakan Starlink demi mendukung kelancaran operasional layanan darurat.






