Palang Merah Indonesia (PMI) menunjukkan komitmen dan kesiapannya dalam menghadapi situasi darurat dengan memberikan respons cepat bagi masyarakat yang terdampak oleh bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Bencana gempa bumi yang mengguncang wilayah NTT tersebut terjadi pada hari Sabtu, 15 Agustus. Kejadian ini menuntut tindakan segera guna meringankan beban warga yang terdampak, dan PMI segera mengambil langkah taktis di lapangan untuk memastikan bantuan kemanusiaan dapat disalurkan secara cepat dan tepat sasaran kepada masyarakat yang membutuhkan di wilayah tersebut.
Dalam penanganan bencana ini, Ketua Umum PMI, Jusuf Kalla, memberikan penegasan mengenai pentingnya efisiensi waktu dalam penanganan bencana. Jusuf Kalla menyatakan bahwa kecepatan respons menjadi faktor yang sangat penting dan krusial dalam manajemen kondisi darurat. Menurutnya, tindakan yang cepat dapat meminimalkan dampak buruk dan memberikan kepastian penanganan bagi para korban. Pernyataan dari Ketua Umum PMI ini menjadi landasan bagi seluruh jajaran dan personel PMI di lapangan untuk bergerak dengan cepat, efektif, serta terkoordinasi dalam membantu masyarakat NTT yang sedang mengalami masa-masa sulit akibat gempa.
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

Hingga tanggal 20 Agustus 2026, PMI terus meningkatkan upaya penanganan dengan memobilisasi berbagai sumber daya yang dimiliki secara maksimal. Tercatat, PMI telah mengerahkan sebanyak 68 personel yang terlatih untuk membantu proses penanganan dampak gempa di NTT. Mobilisasi personel ini juga didukung oleh ketersediaan armada transportasi dan logistik yang memadai di lapangan. PMI menurunkan tujuh unit kendaraan operasional, tujuh unit ambulans, serta satu unit mobil tangki air guna memastikan kebutuhan dasar dan mobilitas bantuan darurat bagi para korban gempa dapat terpenuhi dengan baik.
Selain mengerahkan personel dan armada kendaraan operasional, PMI juga memberikan perhatian khusus pada sektor kesehatan masyarakat dengan mengerahkan dua tim kesehatan keliling. Tim kesehatan keliling ini memiliki peran penting untuk menjangkau warga yang membutuhkan penanganan medis secara langsung di lokasi bencana. Tim medis tersebut terdiri dari dua orang dokter dan lima orang perawat yang memiliki keahlian dalam penanganan darurat. Adapun personel medis yang tergabung dalam tim kesehatan keliling ini didatangkan dan bersumber dari berbagai unit PMI, yaitu dari Markas PMI Pusat, Rumah Sakit PMI Bogor, serta PMI DKI Jakarta.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Melalui pergerakan tim medis dan relawan di lapangan, layanan kesehatan dapat diberikan secara langsung kepada warga yang membutuhkan. Hingga tanggal 20 Agustus, tercatat sebanyak 157 orang warga yang terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur telah mendapatkan pelayanan kesehatan keliling serta pertolongan pertama dari tim medis PMI. Tidak hanya berfokus pada kesehatan fisik, PMI juga memperhatikan kondisi mental para korban pascabencana. Pada periode yang sama hingga 20 Agustus, sebanyak 147 orang juga telah menerima layanan dukungan psikososial untuk membantu pemulihan kondisi emosional mereka setelah mengalami peristiwa bencana gempa bumi tersebut.






