Pakar Vulkanologi dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Agung Harijoko, mengungkapkan bahwa Indonesia tercatat memiliki 127 gunung api aktif yang tersebar di berbagai wilayah, tetapi fasilitas pos pengamatan yang dinilai paling lengkap saat ini baru beroperasi di Gunung Merapi.
Dari total 127 gunung berapi aktif di Tanah Air, Badan Geologi mengelompokkannya ke dalam tiga kategori. Fokus pengawasan terbesar saat ini diprioritaskan pada gunung api Tipe A, yaitu gunung aktif dengan riwayat letusan magmatik sekurang-kurangnya satu kali sejak tahun 1600 Masehi. Berdasarkan catatan resmi Badan Geologi, terdapat sekitar 76 gunung api yang masuk dalam kategori Tipe A tersebut.
Agung menjelaskan bahwa pos pengamatan di sejumlah gunung api aktif di Indonesia sebenarnya sudah berjalan sesuai fungsinya. Kendati demikian, sebagian besar pos pantau tersebut masih memiliki instrumen yang terbatas pada alat perekam getaran utama, yakni seismometer. Fasilitas pemantauan terpadu dan terlengkap hingga saat ini baru terpasang di kawasan Gunung Merapi.
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

Tanggung jawab pengawasan aktivitas vulkanik di seluruh Indonesia berada di bawah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Lembaga teknis ini berstatus sebagai unit kerja eselon II yang bernaung di bawah Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Kondisi fasilitas dan struktur kelembagaan PVMBG ini sebelumnya pernah disorot oleh mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati. Dwikorita sempat mengajukan usulan integrasi PVMBG ke dalam BMKG pada 2019 dan 2023 guna memperluas kewenangan serta memperkuat dukungan fasilitas mitigasi bencana.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Dalam pandangannya, penguatan status kelembagaan serupa pernah terjadi ketika Presiden Megawati Soekarnoputri menaikkan status BMKG menjadi sebuah badan mandiri agar kapasitas penanganan masalah kebencanaan melonjak sesuai kebutuhan. Model penanganan terpadu untuk urusan atmosfer dan kebencanaan geologi dalam satu atap tersebut juga diterapkan oleh otoritas Jepang melalui Japan Meteorological Agency (JMA).






