Bank DBS Indonesia menggelar acara DBS Insights Forum 2026: A New Lens on a Multipolar World untuk merespons ketidakpastian ekonomi global. Forum ini mempertemukan para pakar di bidang geopolitik, hubungan internasional, serta investasi guna membahas prospek ekonomi Indonesia. Dari sisi stabilitas dalam negeri, Founder dan Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menyebutkan bahwa lembaga pemeringkat S&P tetap mempertahankan peringkat Indonesia pada posisi BBB.
Di pasar keuangan global, era pendanaan murah kemungkinan besar telah berakhir. Head of Equity PT BNP Paribas Asset Management, Laurentia Amica Darmawan, menjelaskan bahwa indikasi ini terlihat dari kenaikan imbal hasil obligasi di Jepang dan negara-negara G7, yang menjadi sinyal bahwa biaya pendanaan akan tetap tinggi. Merespons kondisi tersebut, Head of Investment & Insurance Products PT Bank DBS Indonesia, Djoko Soelistyo, memaparkan bahwa strategi investasi Bank DBS Indonesia tidak hanya berfokus pada sektor teknologi, tetapi juga mencakup instrumen yang diuntungkan oleh suku bunga tinggi seperti obligasi.
Prabowo Buka Peluang Rombak Kabinet Jelang Dua Tahun Pemerintahan

Tren makroekonomi lain yang sangat krusial adalah perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang mampu mengubah lanskap berbagai industri, mulai dari manufaktur, robotika, hingga perbankan. Di sektor perbankan, teknologi AI banyak dimanfaatkan untuk membantu proses verifikasi dan penilaian (assessment) nasabah. Kebutuhan investasi untuk pengembangan AI pada tahun 2026 diperkirakan mencapai US$ 700 miliar hingga US$ 800 miliar, yang diproyeksikan akan banyak ditopang oleh penerbitan obligasi.
Untuk kawasan Asia, terdapat empat tema utama yang akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi. Chief Economist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Katarina Setiawan, menjabarkan keempat tema tersebut meliputi teknologi dan AI, energi, pertumbuhan ekonomi domestik, serta diversifikasi basis manufaktur. Terkait AI, Korea Selatan dan Taiwan dinilai sebagai penerima manfaat terbesar melalui industri semikonduktor dan memori. Di sektor lainnya, Tiongkok memimpin dalam pengembangan energi terbarukan dan baterai, sedangkan Korea Selatan unggul di bidang teknologi kelistrikan. Sementara itu, Indonesia memiliki posisi strategis sebagai produsen mineral kritis seperti nikel, tembaga, dan bauksit.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Di tengah dinamika ekonomi yang berkembang, Bank DBS Indonesia terus beroperasi dengan dukungan jajaran eksekutif, termasuk Direktur Consumer Banking PT Bank DBS Indonesia, Melfrida Gultom. Kinerja institusi ini turut diakui melalui berbagai penghargaan bergengsi, seperti Indonesia's Best Private Bank 2026 dari FinanceAsia, Best Priority Banking Experience 2026 dari Asian Banking & Finance, serta predikat Best Wealth Manager Highly Commended dari The Asset.






