PT Pertamina (Persero) memegang peranan krusial sebagai mata rantai penting dalam upaya menjaga ketahanan energi nasional di Indonesia. Dalam konteks ekonomi dan bisnis, ketahanan energi merupakan fondasi utama bagi kelancaran aktivitas industri dan masyarakat luas. Hal ini ditegaskan kembali dalam sebuah diskusi panel bertajuk "BPK Bermartabat dan Bermanfaat: BPK Mendukung Program Ketahanan Energi". Acara diskusi panel tersebut diselenggarakan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada hari Rabu, 29 Juli 2026. Dalam kesempatan penting ini, Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, memaparkan secara perinci berbagai langkah strategis perusahaan untuk terus mendukung dan memperkuat sektor energi nasional.
Untuk mencapai target ketahanan energi yang optimal, Pertamina secara aktif mengimplementasikan program yang dikenal dengan nama dual-growth strategy. Pendekatan strategis ini dirancang khusus untuk terus berupaya memperkuat bisnis yang sedang eksisting saat ini. Implementasi nyata dari strategi pertumbuhan ganda ini dilakukan melalui dua pilar utama, yaitu melalui peningkatan produksi hulu serta meningkatkan kapasitas hilir. Selain memaksimalkan potensi bisnis konvensional, Pertamina juga memperkuat ketahanan energi melalui pengembangan bisnis rendah karbon. Langkah pengembangan bisnis rendah karbon ini menjadi sangat relevan dalam menghadapi dinamika kebutuhan energi domestik.
Inisiatif dan program kerja yang dijalankan oleh Pertamina ini dirancang agar sejalan dengan Asta Cita yang diusung oleh Presiden Prabowo Subianto. Secara spesifik, langkah taktis Pertamina memberikan dukungan langsung terhadap tiga poin krusial dalam program Asta Cita. Pertama, inisiatif Pertamina mendukung implementasi khususnya di poin dua terkait swasembada energi. Kedua, program perusahaan juga sejalan dengan poin lima mengenai hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Ketiga, langkah strategis ini turut menopang poin enam terkait pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Skala operasional Pertamina saat ini telah menjangkau berbagai lini bisnis dari hulu hingga hilir dengan kapasitas yang sangat besar. Di sektor hulu, perusahaan energi nasional ini memproduksi sekitar 1 juta barel oil ekuivalen per day (boepd). Kemampuan produksi ini ditopang secara proporsional oleh sektor pengolahan, di mana Pertamina memiliki kapasitas pengolahan mencapai 1 juta barrel per hari. Sementara itu, di sektor retail, Pertamina saat ini memiliki jaringan lebih dari 15 ribu titik. Fasilitas infrastruktur lain yang tidak kalah penting adalah kepemilikan pipa sepanjang sekitar 33 ribu km pipa gas.
Dalam upaya mengakselerasi pembangunan infrastruktur energi yang terintegrasi, Pertamina saat ini tercatat memiliki 17 kluster Proyek Strategis Nasional (PSN). Di samping itu, Pertamina saat ini juga melaksanakan 10 proyek hilirisasi berskala besar. Proyek-proyek hilirisasi energi tersebut mencakup berbagai sektor, mulai dari proyek ini terkait Kilang & Pengolahan, Terminal Bahan Bakar Minyak (BBM), proyek Biofuel & Bioetanol, hingga hilirisasi Batu Bara ke Dymethyl Ether (DME). Seluruh proyek hilirisasi ini dirancang untuk memaksimalkan pemanfaatan sumber daya domestik agar memberikan nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi.
Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Di masa datang Pertamina juga terus berupaya memperkuat ketahanan storage BBM nasional. Perusahaan juga memiliki fokus pada pengembangan bioetanol serta membawa mimpi besar menjadi hub Sustainable Aviation Fuel (SAF) melalui produk Pertamina SAF. Guna memastikan seluruh upaya strategis dan program hilirisasi tersebut dapat dipercepat, diperlukan kolaborasi dengan stakeholder. Salah satunya adalah menjalin kolaborasi strategis dengan BPK untuk mengawal operasional dan proyek. Melalui sinergi yang baik, Pertamina berharap akselerasi proyek energi nasional dapat terwujud secara optimal.






