Ancaman gempa bumi di Pulau Jawa tidak hanya bersumber dari 14 segmen megathrust yang mengelilingi Indonesia. Pakar kebencanaan mengingatkan potensi bahaya gempa intra-slab atau gempa di dalam lempeng tersubduksi yang kerap memicu guncangan berfrekuensi tinggi dengan spektrum wilayah kerusakan yang sangat luas.
Peristiwa gempa bumi berkekuatan M5,3 di Cilacap pada 4 September 2026 menjadi bukti nyata aktivitas intra-slab terkini. Gempa dengan mekanisme patahan turun (normal fault) akibat tarikan gravitasi dan tekukan lempeng tersebut getarannya dirasakan meluas hingga ke wilayah Jawa Timur.
Gempa intra-slab terjadi akibat deformasi serta patahan batuan di dalam lempeng samudra yang menukik ke bawah pada kedalaman menengah (60–300 kilometer) hingga dalam (di atas 300 kilometer). Terdapat tiga pemicu utama di balik fenomena ini, yakni gaya tarik gravitasi yang menarik ujung lempeng ke bawah hingga memicu retakan, tekanan tekukan tajam, serta proses dehidrasi batuan saat suhu panas bumi memeras air keluar dari mineral batuan.
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

Secara karakteristik, gempa jenis ini tidak memicu tsunami. Kendati demikian, apabila kekuatan gempa intra-slab mencapai magnitudo 6,0 ke atas, gelombang geser (S-wave) yang merambat secara efisien melalui struktur batuan padat slab lempeng dapat melipatgandakan kerusakan infrastruktur di permukaan.
Catatan sejarah membuktikan daya rusak gempa intra-slab di tanah Jawa. Sejumlah peristiwa besar masa lalu meliputi gempa M7,8 pada 10 Juni 1867 yang menewaskan 500 orang dan merusak hampir seluruh Pulau Jawa, gempa M7,6 pada 28 Maret 1875, serta gempa M7,9 pada 27 Februari 1903 yang merusak Banten, Jawa Barat, hingga Lampung. Rentetan ini berlanjut pada gempa M7,1 pada 23 Juli 1943 yang menewaskan lebih dari 213 warga di Cilacap hingga Pacitan, gempa Jawa Barat M7,0 pada 2 September 2009 dengan 108 korban jiwa, hingga gempa Jawa Timur pada 10 April 2021 yang merenggut 10 korban jiwa dan merusak fasilitas di 16 kabupaten/kota.
Pujian Prabowo ke Pramono Meski Tak Separtai Mengemuka di Peresmian LRT

Menghadapi ancaman tersebut, langkah mitigasi mendesak dilakukan melalui pemetaan zonasi medan tegangan (stress field) dan pemantauan mikroseismik secara real-time pada litosfer tersubduksi. Selain itu, penegakan standar bangunan tahan gempa berbasis percepatan tanah puncak (Peak Ground Acceleration/PGA) menjadi pertahanan utama guna meminimalkan risiko korban dan kerugian infrastruktur.






