Jumlah korban dugaan keracunan setelah mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, bertambah menjadi 730 orang. Korban terdampak terdiri dari santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam serta para pelajar dari 19 sekolah di wilayah Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin.
Data sebanyak 730 korban tersebut dihimpun dari laporan fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) yang menangani para pasien. Data ini mencakup pasien yang dirujuk ke rumah sakit maupun warga yang memeriksakan diri secara mandiri ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), tempat praktik dokter swasta, hingga bidan.
Setelah mengonsumsi paket makanan tersebut, para santri dan siswa dilaporkan mengalami gejala gangguan kesehatan, seperti mual, muntah, dan pusing.
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

Penanganan Medis dan Kondisi Pasien
Berdasarkan pembaruan data penanganan medis hingga pukul 15.10 WIB, sebagian besar korban telah berangsur membaik dan diizinkan pulang. Tercatat sebanyak 706 pasien telah berstatus rawat jalan setelah menerima perawatan medis.
Sementara itu, sebanyak 23 pasien dilaporkan masih harus menjalani rawat inap di fasilitas kesehatan. Selain pasien rawat inap dan rawat jalan, terdapat 1 pasien lainnya yang masih berada dalam tahap observasi di RSUD RT Notopuro Sidoarjo guna memantau perkembangan kondisinya.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Menu Makanan dari SPPG Kalitengah Tanggulangin
Peristiwa dugaan keracunan massal ini terjadi setelah para korban menyantap menu MBG yang dibagikan pada Selasa (1/9) siang. Paket makanan tersebut diketahui diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah Tanggulangin.
Adapun hidangan yang dibagikan dan dikonsumsi pada hari tersebut terdiri dari nasi putih, orak-arik telur, tempe bumbu bali, sayur tumis buncis baby corn, dan buah apel. Gejala seperti mual, muntah, hingga pusing mulai dirasakan para santri dan pelajar sesudah menyantap makanan tersebut, yang kemudian memicu penanganan medis massal di sejumlah fasyankes di Kabupaten Sidoarjo.






