Petugas pemakaman di Republik Demokratik Kongo (DRC) kini menghadapi ancaman ganda di tengah eskalasi wabah Ebola. Selain bergulat dengan risiko penularan virus mematikan dan kelelahan fisik, para pekerja di garis depan ini berulang kali menjadi sasaran kemarahan keluarga korban yang menentang protokol pemakaman darurat.
Kondisi paling menonjol terjadi di Provinsi Ituri. Sejak wabah merebak pada pertengahan Mei, tim-tim khusus dikerahkan ke titik-titik penyebaran untuk menggali liang lahat, menyiapkan jenazah, dan memastikan proses penguburan dilakukan secara aman. Namun, tingginya angka kematian diiringi oleh peningkatan tekanan sosial serta penolakan dari warga setempat.
Yuma Adolphe, salah seorang anggota tim pemakaman, menuturkan bahwa beban kerja mereka semakin berat seiring bertambahnya jumlah korban. Untuk tugas berisiko tinggi tersebut, para petugas menerima kompensasi harian sekitar US$20 atau setara Rp352.000.
Konflik antara Protokol Medis dan Tradisi Lokal
Ketegangan di lapangan bermula dari keharusan memutus rantai penularan. Berbeda dengan penyakit umum lainnya, jenazah pasien Ebola masih membawa virus aktif yang sangat mudah menular. Oleh karena itu, penanganan jenazah harus dilakukan secara ketat oleh tim terlatih, sehingga keluarga dilarang menyentuh peti mati atau menjalankan ritual pemakaman tradisional secara penuh.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Larangan tersebut memicu penolakan dan salah paham di kalangan masyarakat. Adolphe menjelaskan bahwa menurut adat istiadat setempat, jenazah seharusnya diserahkan langsung kepada pihak keluarga untuk diurus secara mandiri. Pembatasan akses ini memicu rasa frustrasi mendalam bagi kerabat yang berduka.
Kemarahan keluarga terlihat pada prosesi pemakaman Justine Habineno, seorang anggota paduan suara berusia 36 tahun yang meninggal akibat Ebola. Sang ibu, Sofia Wanito, mengaku hanya diizinkan melihat jasad putrinya dari balik jendela rumah sakit dan tidak diperbolehkan menyentuh peti jenazah sama sekali.
Ancaman Serangan Fisik dan Tantangan di Lapangan
Eskalasi emosi warga tercatat beberapa kali berujung pada serangan fisik terhadap tim medis dan tim pemakaman di pusat wabah sejak Mei. Menanggapi insiden-insiden tersebut, Jeanne Alasha, penasihat gubernur militer Ituri untuk urusan kesehatan dan kemanusiaan, menegaskan bahwa kekerasan atau penyerangan terhadap petugas penanggulangan wabah dapat dikenai sanksi hukum.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Di sisi lain, para petugas tetap bertahan menjalankan tugas meski menghadapi penolakan sosial dan kecemasan keluarga sendiri. Anggota tim pemakaman lainnya, Benjamin Muhindo, mengungkapkan bahwa keluarganya sempat khawatir ia akan membawa virus tersebut pulang ke rumah.
Upaya penanganan wabah di DRC semakin rumit akibat kombinasi faktor eksternal, mulai dari konflik bersenjata, perpindahan pengungsi dalam jumlah besar, mobilitas penduduk yang tinggi, hingga keterbatasan fasilitas pada sistem kesehatan setempat.






