Badan Gizi Nasional (BGN) bersama aparat kepolisian tengah menginvestigasi peristiwa keracunan massal yang menimpa ratusan pelajar usai menyantap paket Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sidoarjo. Wakil Kepala BGN Mayjen TNI (Purn) Trenggono menyatakan bahwa proses hukum dan penelusuran penyebab pasti insiden tersebut masih berjalan, sehingga belum ada pihak yang ditetapkan sebagai tersangka.
Menurut Trenggono, langkah awal yang diambil otoritas berfokus penuh pada penanganan medis para korban. Bersamaan dengan perawatan korban terdampak, investigasi mendalam dilakukan guna membuktikan apakah insiden keracunan bersumber dari kelalaian prosedural semata atau terdapat indikasi unsur kesengajaan.
Sebagai langkah penindakan internal, BGN telah menjatuhkan sanksi administratif berupa penghentian sementara atau penangguhan operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah Tanggulangin, Sidoarjo. Selain menutup operasional fasilitas tersebut, BGN juga mencopot kepala unit SPPG terkait dari jabatannya karena tidak mematuhi standar operasional prosedur (SOP).
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

Trenggono menegaskan sanksi penutupan tersebut berpotensi ditingkatkan menjadi permanen jika hasil penelusuran menunjukkan adanya pelanggaran fatal terhadap ketentuan yang telah ditetapkan BGN.
Ratusan Korban Jalani Perawatan
Kasus keracunan ini bermula setelah para santri di Pondok Pesantren Manbaul Hikam serta murid di 19 sekolah wilayah Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, mengonsumsi makanan program MBG pada Selasa (1/9) siang. Menu yang dibagikan saat itu terdiri atas nasi putih, orak-arik telur, tempe bumbu bali, tumis buncis baby corn, dan buah apel. Tak lama setelah menyantap hidangan tersebut, para siswa mengeluhkan gejala mual, muntah, hingga pusing.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo per Kamis (4/9) siang, jumlah korban keracunan MBG terdata mencapai 748 orang. Dari total korban tersebut, sebanyak 20 orang masih harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit, sementara 728 orang lainnya telah dinyatakan membaik dan diperbolehkan pulang untuk rawat jalan.






