Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan operasi darat menjadi metode paling efektif dalam menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Evaluasi tersebut disampaikan di tengah peningkatan eskalasi karhutla di enam provinsi prioritas, yakni Sumatra Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Kepala BNPB Suharyanto menjelaskan bahwa pemadaman di lapangan menggabungkan tiga strategi utama, yaitu OMC, operasi darat, dan operasi udara melalui water bombing. Meski ketiga elemen tersebut saling terintegrasi dalam skema penanganan darurat, tingkat efektivitas hasilnya memiliki perbedaan signifikan.
Efektivitas Tiga Metode Pemadaman
Berdasarkan evaluasi BNPB, OMC menempati urutan pertama dalam efektivitas pemadaman. Hujan buatan yang dihasilkan dari modifikasi cuaca mampu menjangkau dan membasahi area terdampak yang sangat luas secara serentak.
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

Operasi darat menempati posisi kedua paling efektif, terutama saat menangani lahan gambut yang menyimpan titik api di bawah permukaan tanah. Untuk menuntaskan bara di kedalaman tersebut, personel darat menggunakan alat suntik gambut yang menyalurkan air hingga kedalaman 1 hingga 2 meter hingga struktur tanah benar-benar basah.
Sementara itu, operasi water bombing berada di peringkat ketiga. Keterbatasan muatan sekitar 4 ton per sorti membuat helikopter water bombing lebih difokuskan untuk memutus kepala api (fire head) sebelum tim darat masuk mengisolasi dan membasahi lahan.
Luas Area Terbakar dan Kondisi Lapangan
Peningkatan titik api tahun ini dipicu oleh fenomena El Nino yang tergolong sangat kuat berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kondisi iklim yang kering memicu lonjakan luasan lahan yang terbakar di sejumlah wilayah rawan.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Data BNPB per 8 September 2026 mencatat total indikasi luasan lahan terbakar di enam provinsi prioritas telah menembus 76.922,3 hektare. Khusus untuk lahan gambut, per 6 September 2026 tercatat 72.009,10 hektare terbakar, dengan 939,45 hektare di antaranya masih dalam penanganan intensif.
Sebaran dampak di sejumlah daerah meliputi:
- Riau: Laporan Tim Pendamping Karhutla Riau per 10 September 2026 mencatat akumulasi lahan terbakar sejak awal tahun melampaui 19.000 hektare, dengan sekitar 326 hektare masih aktif terbakar.
- Kalimantan Tengah: Per 10 September 2026, luasan terbakar mencapai 7.634,46 hektare dengan 90 titik api (fire spot) seluas 212,3 hektare, di mana 71,2 hektare masih dalam proses pemadaman aktif.
- Kalimantan Selatan: Data per 9 September 2026 mencatat 27 fire spot dengan estimasi lahan terbakar 132,062 hektare. Dari jumlah itu, 95,882 hektare telah dipadamkan dan 36,18 hektare sisanya terus ditangani petugas gabungan.






