Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat yang berada di wilayah terdampak paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dalam sepekan ini. Imbauan tersebut disampaikan menyusul potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan oleh partikel debu vulkanik.
Peringatan ini disampaikan Menkes dalam Rapat Terbatas Penanganan Bencana Alam yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto pada Senin (7/9). Menkes menjelaskan bahwa debu vulkanik membawa partikel berbahaya yang dapat mengancam kesehatan tubuh manusia secara langsung jika terhirup atau terpapar kulit.
Menurut pemaparan Budi Gunadi Sadikin, partikel berbahaya di dalam abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau mengandung silika. Kandungan silika tersebut berisiko merusak organ paru-paru jika terhirup ke dalam saluran pernapasan. Selain risiko pada sistem pernapasan, abu vulkanik juga dapat memicu masalah pada kulit karena butiran debunya bersifat tajam.
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

Masyarakat yang memiliki kepentingan mendesak dan terpaksa melakukan kegiatan di luar rumah diminta untuk melakukan langkah pencegahan. Menkes menyarankan warga mengenakan masker dan kacamata saat beraktivitas di luar. Selain itu, masyarakat juga diharapkan mengenakan baju lengan panjang serta celana panjang guna melindungi permukaan kulit dari kontak langsung dengan partikel abu yang tajam.
Peningkatan Status Erupsi dan Dampak Wilayah
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menetapkan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB. Aktivitas gunung api tersebut kemudian terpantau menanjak pada Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB, saat aliran lava mulai terlihat jelas dari perairan Selat Sunda.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Erupsi tersebut menyebabkan sebaran abu vulkanik meluas ke berbagai daerah. Area yang terdampak sebaran abu tercatat mencapai lintas wilayah, mencakup Provinsi Lampung, Banten, DKI Jakarta, hingga Jawa Barat.
Selain berdampak pada kondisi udara di darat, peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau turut mengganggu sektor transportasi. Jalur penerbangan di kawasan terdampak, baik untuk rute domestik maupun penerbangan internasional, ditutup sementara demi menjaga keselamatan penerbangan dari risiko material vulkanik.






