Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan pemimpin Pasukan Merah Tariu Borneo Bengkulu Rajaking (TBBR) dari suku Dayak Kanayatn, Panglima Jilah, di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat (28/8/2026). Pertemuan tersebut secara khusus membahas upaya dan langkah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sedang melanda wilayah Kalimantan Barat.
Dalam keterangannya, Panglima Jilah mengungkapkan bahwa bencana karhutla di Kalimantan Barat telah berlangsung selama sekitar satu minggu pada saat pertemuan itu berlangsung. Kondisi ini memerlukan respons cepat agar titik api dapat segera dipadamkan dan dampaknya tidak semakin meluas bagi masyarakat setempat.
Dukungan Personel, Helikopter, dan Rekayasa Cuaca
Menanggapi persoalan karhutla tersebut, Presiden Prabowo Subianto menyatakan komitmen dukungannya untuk memperkuat proses pemadaman dan pengendalian api. Bentuk dukungan yang diberikan meliputi penambahan jumlah personel di lapangan yang menurut Panglima Jilah prosesnya sudah mulai berjalan.
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

Selain perbanyakan personel, Presiden Prabowo juga menyetujui sejumlah langkah teknis penunjang lainnya. Pemerintah menyepakati penambahan unit helikopter untuk mendukung operasi penanganan dari udara serta pelaksanaan operasi rekayasa cuaca guna membantu mempercepat pemadaman api di kawasan terdampak.
Mengenai total jumlah personel tambahan yang dikerahkan ke Kalimantan Barat, Panglima Jilah tidak merinci angkanya secara detail. Ia menegaskan bahwa penetapan jumlah dan teknis pengerahan personel tersebut sepenuhnya merupakan kewenangan Presiden Prabowo.
Klarifikasi Terkait Praktik Berladang Masyarakat Adat
Dalam kesempatan yang sama, Panglima Jilah turut menyoroti persepsi publik yang kerap mengaitkan aktivitas berladang masyarakat adat dengan kemunculan kabut asap akibat karhutla di Kalimantan Barat. Ia menegaskan bahwa masyarakat adat yang menjalankan tradisi berladang tidak semestinya langsung dituding sebagai penyebab utama timbulnya kebakaran dan kepulan asap.
Pujian Prabowo ke Pramono Meski Tak Separtai Mengemuka di Peresmian LRT

Panglima Jilah meluruskan bahwa masyarakat adat setempat melakukan aktivitas berladang di atas lahan mineral, bukan di kawasan lahan gambut. Hal ini membedakan karakteristik pengolahan lahan yang dilakukan masyarakat adat dengan lokasi-lokasi kebakaran gambut yang rentan menghasilkan asap pekat.
Di samping itu, masyarakat adat selalu menjalankan prosedur pemantauan mandiri saat proses pembakaran ladang berlangsung. Warga secara langsung menjaga dan memonitor lokasi lahan yang dibakar demi memastikan kobaran api tetap terkendali dan tidak merembet ke lingkungan sekitarnya.






