Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara resmi memulai pembangunan proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kota Bekasi. Fasilitas pengolahan limbah berbasis teknologi ramah lingkungan dengan nilai investasi mencapai Rp 3 triliun ini disiapkan untuk mengatasi persoalan volume sampah perkotaan sekaligus memperkuat pasokan energi bersih di kawasan tersebut.
Chief Investment Officer (CIO) BPI Danantara, Pandu Sjahrir, menyatakan bahwa proyek di Kota Bekasi merupakan kelanjutan dari inisiatif fasilitas pengolahan sampah serupa yang sebelumnya telah lebih dulu diresmikan di Denpasar, Bali. Fasilitas PSEL Bekasi ini dirancang untuk memiliki kapasitas olah yang besar guna menyerap beban timbunan sampah harian di wilayah penyangga ibu kota.
Secara teknis, proyek PSEL ini ditargetkan mampu mengelola lebih dari 500.000 ton sampah per tahun. Jumlah volume tersebut setara dengan sekitar 70 persen dari total timbunan sampah yang dihasilkan di Kota Bekasi setiap tahunnya.
Maluku Utara Ukir Prestasi Nasional, Sherly Tekankan Kepercayaan Investor

Pasokan Listrik Rumah Tangga dan Pengurangan Beban Lahan
Dari hasil konversi termal dan pengolahan limbah tersebut, PSEL Bekasi diproyeksikan menghasilkan listrik berbasis energi hijau yang cukup untuk menyuplai kebutuhan daya bagi sekitar 55.000 rumah tangga di Kota Bekasi. Di samping memproduksi listrik bersih, efisiensi pengolahan terpusat ini diperkirakan dapat mengurangi kebutuhan alokasi lahan tempat pembuangan akhir (TPA) hingga 90 persen.
Dalam pelaksanaannya, proyek ini mengadopsi standar lingkungan internasional European Industrial Emissions Directive untuk menjaga ambang batas buangan dan emisi operasional. Melalui penerapan standar ketat tersebut, fasilitas ini ditargetkan dapat menekan emisi gas buang dari TPA konvensional hingga 80 persen serta memangkas emisi karbon sebesar 640.000 ton setara CO2 per tahun.
BEI Aktifkan Lagi Short Selling, Ini Cara Kerjanya

Selain memberikan manfaat perbaikan tata kelola lingkungan dan diversifikasi energi, proyek bernilai Rp 3 triliun ini diperkirakan akan menciptakan sekitar 1.000 lapangan kerja hijau (green jobs) baru yang memberdayakan tenaga kerja dan perekonomian lokal di sekitar area proyek.






